TUGAS INDIVIDU
BAHASA
INDONESIA
NAMA
: SRIWAHYU NINGSIH
KELAS : II B
NIM : 153144061
JURUSAN
BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAM
FAKULTAS
DAKWAH DAN KOMUNIKASI
INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) MATARAM
2015
BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Manusia adalah makhluk
paling sempurna diantara makhluk-makhluk
ciptaan Allah SWT di bumi ini. Diberinya daya cipta, rasa dan karsa yang
memungkinkan manusia untuk berbuat lebih besar dari pada otak mereka yang
kecil. Kekuatan berpikir itulah yang sering disebut-sebut dengan
intelegensi. Manusia yang mempunyai intelegensi yang tinggi, tentulah mereka
lebih unggul daripada manusia yang memiliki intelegesi yang rendah. Intelegensi
merupakan kemampuan yang dibawa sejak lahir, bukan timbul secara tiba-tiba. Yang memungkinkan
seseorang berbuat sesuatu dengan cara tertentu. Intelegensi juga dapat dipahami
sebagai kemampuan yang bersifat umum untuk mengadakan penyesuaian terhadap
suatu situasi atau masalah.
Di zaman
modern saat ini, masyarakat umum mengenal inteligensi sebagai istilah yang
menggambarkan kecerdasan, kepintaran, ataupun kemampuan untuk memecahkan
problem yang dihadapi. Gambaran tentang anak yang berintelegensi tinggi adalah
gambaran mengenai siswa yang pintar, siswa yang selalu naik kelas dengan nilai
baik, atau siswa yang jempolan di kelasnya. Bahkan Gambaran ini meluas pada
citra fisik, yaitu citra anak yang wajahnya bersih, berpakaian rapi, matanya
bersinar, atau berkacamata. Sebaliknya, gambaran anak yang berinteligensi
rendah membawa citra seseorang yang lamban berfikir, sulit mengerti, prestasi
belajarnya rendah, dan mulut lebih banyak menganga disertai tatapan mata
bingung.
Intelegensi merupakan salah satu
konsep yang dipelajari dalam psikologi. Pada hakekatnya, semua orang sudah
merasa memahami makna intelegensi. Sebagian orang berpendapat bahwa intelegensi
merupakan hal yang sangat penting dalam berbagai aspek kehidupan.
Intelegensi erat kaitannya dengan
kehidupan manusia. Banyak problem – problem manusia yang berhubungan dengan
intelegensi. Dalam dunia pendidikanpun, intelegensi merupakan hal yang sangat
berkaitan. Seolah – olah intelegensi merupakan penentu keberhasilan untuk
mencapai segala sesuatu yang diinginkan, dan merupakan suatu penentu
keberhasilan dalam semua bidang kehidupan.
Pandangan awam sebagaimana digambarkan di
atas, walaupun tidak memberikan arti yang jelas tentang inteligensi namun pada
umumnya tidak berbeda jauh dari makna inteligensi sebagaimana yang dimaksudkan
oleh para ahli. Adapun definisinya, makna inteligensi memang mendeskripsikan
kepintaran dan kebodohan.
Pada umumnya, para ahli menerima
pengertian akan inteligensi sebagaimana istilah tersebut digunakan oleh orang
awam. Kekaburan lingkup konsep mengenai inteligensi menyebabkan sebagian ahli
bahkan tidak merasa perlu untuk berusaha memberikan batasan yang pasti. Bagi
mereka ini banyak diantara definisi yang telah dirumuskan ternyata terlalu luas
untuk dapat disalahkan dan terlalu kabur untuk dapat dimanfaatkan.
B.
RUMUSAN MASALAH
·
Apa definisi intelegensi ?
·
Apa saja factor yang mempengaruhi intelegensi ?
·
Apa saja teori intelegensi ?
·
Bagaimana cara pengukuran intelegensi ?
·
Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan belajar
peserta didik ?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
TEORI INTELEGENSI
Psikolog Inggris Charles Spearman
(1863-1945) menggambarkan sebuah konsep yang disebut sebagai kecerdasan umum ,
atau faktor g. Menurut Spearman bahwa kecakapan intelektual
terdiri dari dua macam. Korelasi “g” factor dan “s“ factor dalam performance. Menurutnya kecerdasan atau inteligensi
ialah kemampuan umum untuk memahami hubungan atau korelasi. Spearman menyatakan
bahwa kecakapan intelektual terdiri dari dua macam yang disebut sebagai teori
dua factor, teori tersebut antara lain :
1. General ability atau general
faktor (“g” faktor). Faktor ini terdapat pada semua individu, tetapi
berbeda satu dengan yang lainnya (mendasari semua perilaku orang). Faktor ini
selalu didapati dalam semua “performance”.
Faktor ini selalu didapati dalam semua performance. Karakteristik faktor “g”:
merupakan kemampuan umum yang dibawa sejak lahir, bersifat konstan,
dipergunakan dalam setiap kegiatan individu, jumlah faktor “g” setiap individu
berbeda, dan semakin besar jumlah “g” yang ada dalam diri seseorang, maka makin
besar kemungkinan kesuksesan hidupnya. Faktor ini umumnya berhubungan dengan Kemampuan
menyelesaikan masalah atau tugas-tugas secara umum (misalnya, kemampuan
menyelesaikan soal-soal matematika).
2.
Special ability atau special faktor (s faktor). Faktor
ini merupakan faktor yang khusus mengenai bidang tertentu (berfungsi pada
perilaku-perilaku khusus saja). Faktor “s” mempunyai
beberapa karakteristik, antara lain sebagai berikut: dipelajari dan diperoleh
dari lingkungan, bervariasi dari kegiatan yang satu dengan lainnya dari
individu yang sama, jumlah muatan “s” pada tiap-tiap individu berbeda. Dengan demikian, maka jumlah faktor
ini banyak, misalnya ada S1, S2, S3, dan sebagainya sehingga kalau pada
seseorang “s” factor dalam bidang tertentu dominan, maka orang itu akan
menonjol dalam bidang tersebut. Umumnya contoh dari faktor ini dapat dilihat
dari kemampuan menyelesaikan masalah atau tugas - tugas secara khusus
(misalnya, mengerjakan soal-soal perkalian,atau penambahan dalam matematika).
Setelah menggunakan teknik yang
dikenal sebagai analisis faktor untuk untuk memeriksa sejumlah tes bakat
mental, Spearman menyimpulkan bahwa skor pada tes ini sangat mirip. Orang
yang memiliki kinerja yang baik pada satu tes kognitif cenderung melakukan
dengan baik pada tes lain, sementara mereka yang mendapat skor buruk pada satu
tes cenderung memiliki skor buruk pada tes lain. Dia menyimpulkan bahwa
kecerdasan adalah kemampuan umum kognitif yang dapat diukur dan dinyatakan
secara numerik.
Spearman berspekulasi bahwa jika
semua tes mental berkorelasi positif harus ada beberapa variabel umum atau
faktor yang menghasilkan korelasi positif. Pada tahun 1904 Spearman
menerbitkan artikel yang menggunakan metode statistik untuk menunjukkan
bahwa korelasi positif antara tes mental memang dihasilkan dari faktor pokok
umum. Metode ini dikenal sebagai analisis faktor. Dengan Menggunakan faktor
analisis Spearman percaya akan ada kemungkinan untuk mengidentifikasi kelompok
tes yang mengukur kemampuan umum. Berdasarkan teknik analisis faktor Charles
Spearman menyatakan bahwa faktor derek langsung dapat mempengaruhi skor
individu pada tes mental.Dia menyebutnya faktor pertama kecerdasan umum atau
faktor umum" (Encarta.msn, 2006).
Faktor umum yang mewakili semua tes
mental karena memiliki kesamaan. Skor pada semua tes berkorelasi positif. Dia
percaya bahwa hal ini di karenakan semua tes digambarkan pada
faktor umum. Faktor Kedua Charles Spearman adalah faktor tertentu. Faktor
spesifik yang berhubungan dengan kemampuan apapun yang unik, tes tertentu
diperlukan sehingga tes yang satu berbeda dari tes yang lain. Spearman dan para
pengikutnya lebih menekankan pada kecerdasan umum dari pada faktor tertentu.
B. PENGUKURAN
INTELEGENSI
Pada tahun 1904, Alfred Binet dan
Theodor Simon, 2 orang psikolog Perancis merancang suatu alat evaluasi yang
dapat dipakai untuk mengidentifikasi siswa-siswa yang memerlukan kelas-kelas
khusus (anak-anak yang kurang pandai). Alat tes itu dinamakan Tes Binnet-Simon.
Tes ini kemudian direvisi pada tahun 1911.
Tahun1916,LewisTerman, seorang psikolog dari
Amerika mengadakan banyak perbaikan dari Tes Binet-Simon. Sumbangan utamanya
adalah menetapkan indeks numerik yang menyatakan kecerdasan sebagai rasio (perbandingan)
antara mental age dan chronological age. Hasil perbaikan ini disebut Tes
Stanford_binet. Indeks seperti ini sebetulnya telah diperkenalkan oleh psikolog
Jerman yang bernama William Stern, yang kemudian dikenal dengan Intelligence
Quotient atau IQ. Tes Stanford_Binet ini banyak digunakan untuk mengukur
kecerdasan anak-anak sampai usia 13 tahun.
Salah satu reaksi atas Tes Binet-Simon atau Tes Stanford-Binet adalah
bahwa tes itu terlalu umum. Seorang tokoh dalam bidang ini, Charles Spearman
mengemukakan bahwa inteligensi tidak hanya terdiri dari satu faktor yang umum
saja (General factor), tetapi juga terdiri dari faktor-faktor yang lebih
spesifik. Teori ini disebut teori faktor (Factor Theory of Intelligence). Alat
tes yang dikembangkan menurut teori faktor ini adalah WAIS (Wechsler Adult
Intelligence Scale) untuk orang dewasa, dan WISC (Wechsler Intelligence Scale
for Children) untuk anak-anak.
C. FAKTOR-FAKTOR
YANG MEMPENGARUHI BELAJAR PESERTA DIDIK
Menurut Slameto (2010: 54) ada dua
faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar, yaitu faktor intern dan faktor
ekstern.
Ø Faktor intern, terdiri dari :
1.
Faktor Jasmaniah antara lain, faktor kesehatan, dan cacat
tubuh.
2.
Faktor Psikologi yaitu, intelegensi, perhatian, minat,
bakat, motif, kematangan dan kesiapan
3.
Faktor Kelelahan, faktor kelelahan sangat mempengaruhi hasil
belajar, agar siswa dapat belajar dengan baik haruslah menghindari jangan
sampai terjadi kelelahan dalam belajarnya. Sehingga perlu diusahakan kondisi
yang bebas dari kelelahan.
Ø Faktor Ekstern terdiri dari :
1.
Faktor Keluarga, seperti cara orang tua mendidik, relasi
antar anggota, suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga, pengertian orang tua,
dan latar belakang kebudayaan.
2.
Faktor Sekolah, seperti metode mengajar, kurikulum, relasi
guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, alat pelajaran,
waktu sekolah, standar pelajaran di atas ukuran, keadaan gedung, metode
belajar, dan tugas rumah.
3. Faktor Masyarakat, seperti kegiatan
siswa dalam masyarakat, teman bergaul, dan bentuk kehidupan masyarakat.
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Kecerdasan atau intelegensi adalah
kemampuan adaptasi dan menggunakan pengetahuan yang di miliki dalam menghadapi
berbagai masalah dalam hidup seseorang. Beberapa teori menyatakan bahwa
kecerdasan merupakan kemampuan dasar yang dimiliki oleh individu dalam
menentukan tujuan hidupnya.
Inteligensi/kecerdasan secara umum
dipahami pada dua tingkat yakni: kecerdasan sebagai suatu kemampuan untuk
memahami informasi yang membentuk pengetahuan dan kesadaran. Kecerdasan sebagai
kemampuan untuk memproses informasi sehingga masalah-masalah yang kita hadapi
dapat dipecahkan (problem solved) dan dengan demikian pengetahuan pun
bertambah. (Djaali, 2006:63) memandang kecerdasan sebagai pemandu dan penyatu
dalam mencapai sasaran secara efektif dan efisien.
Dengan kata lain, orang yang lebih
cerdas, akan mampu memilih strategi pencapaian sasaran yang lebih baik dari
orang yang kurang cerdas. Artinya orang yang cerdas mestinya lebih sukses dari
orang yang kurang cerdas. Yang sering membingungkan ialah kenyataan adanya
orang yang kelihatan tidak cerdas (sedikitnya di sekolah) kemudian tampil
sukses, bahkan lebih sukses dari rekan-rekannya yang lebih cerdas, dan
sebaliknya.
DAFTAR PUSTAKA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar