Jumat, 16 Oktober 2015

makalahh intelegensi




TUGAS INDIVIDU
BAHASA INDONESIA

NAMA           : SRIWAHYU NINGSIH
KELAS          : II B
NIM                : 153144061


JURUSAN BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAM
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) MATARAM
2015

BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Manusia adalah makhluk paling sempurna diantara makhluk-makhluk ciptaan Allah SWT di bumi ini. Diberinya daya cipta, rasa dan karsa yang memungkinkan manusia untuk berbuat lebih besar dari pada otak mereka yang kecil. Kekuatan berpikir itulah yang sering disebut-sebut dengan intelegensi. Manusia yang mempunyai intelegensi yang tinggi, tentulah mereka lebih unggul daripada manusia yang memiliki intelegesi yang rendah. Intelegensi merupakan kemampuan yang dibawa sejak lahir, bukan timbul secara tiba-tiba. Yang memungkinkan seseorang berbuat sesuatu dengan cara tertentu. Intelegensi juga dapat dipahami sebagai kemampuan yang bersifat umum untuk mengadakan penyesuaian terhadap suatu situasi atau masalah.
Di zaman modern saat ini, masyarakat umum mengenal inteligensi sebagai istilah yang menggambarkan kecerdasan, kepintaran, ataupun kemampuan untuk memecahkan problem yang dihadapi. Gambaran tentang anak yang berintelegensi tinggi adalah gambaran mengenai siswa yang pintar, siswa yang selalu naik kelas dengan nilai baik, atau siswa yang jempolan di kelasnya. Bahkan Gambaran ini meluas pada citra fisik, yaitu citra anak yang wajahnya bersih, berpakaian rapi, matanya bersinar, atau berkacamata. Sebaliknya, gambaran anak yang berinteligensi rendah membawa citra seseorang yang lamban berfikir, sulit mengerti, prestasi belajarnya rendah, dan mulut lebih banyak menganga disertai tatapan mata bingung.
Intelegensi merupakan salah satu konsep yang dipelajari dalam psikologi. Pada hakekatnya, semua orang sudah merasa memahami makna intelegensi. Sebagian orang berpendapat bahwa intelegensi merupakan hal yang sangat penting dalam berbagai aspek kehidupan.
Intelegensi erat kaitannya dengan kehidupan manusia. Banyak problem – problem manusia yang berhubungan dengan intelegensi. Dalam dunia pendidikanpun, intelegensi merupakan hal yang sangat berkaitan. Seolah – olah intelegensi merupakan penentu keberhasilan untuk mencapai segala sesuatu yang diinginkan, dan merupakan suatu penentu keberhasilan dalam semua bidang kehidupan.
            Pandangan awam sebagaimana digambarkan di atas, walaupun tidak memberikan arti yang jelas tentang inteligensi namun pada umumnya tidak berbeda jauh dari makna inteligensi sebagaimana yang dimaksudkan oleh para ahli. Adapun definisinya, makna inteligensi memang mendeskripsikan kepintaran dan kebodohan.
Pada umumnya, para ahli menerima pengertian akan inteligensi sebagaimana istilah tersebut digunakan oleh orang awam. Kekaburan lingkup konsep mengenai inteligensi menyebabkan sebagian ahli bahkan tidak merasa perlu untuk berusaha memberikan batasan yang pasti. Bagi mereka ini banyak diantara definisi yang telah dirumuskan ternyata terlalu luas untuk dapat disalahkan dan terlalu kabur untuk dapat dimanfaatkan.




B.     RUMUSAN MASALAH
·         Apa definisi intelegensi ?
·         Apa saja factor yang mempengaruhi intelegensi ?
·         Apa saja teori intelegensi ?
·         Bagaimana cara pengukuran intelegensi ?
·         Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan belajar peserta didik ?






BAB II
PEMBAHASAN


A.    TEORI INTELEGENSI
Psikolog Inggris Charles Spearman (1863-1945) menggambarkan sebuah konsep yang disebut sebagai kecerdasan umum , atau faktor g. Menurut Spearman bahwa kecakapan intelektual terdiri dari dua macam. Korelasi “g” factor dan “s“ factor dalam performance. Menurutnya kecerdasan atau inteligensi ialah kemampuan umum untuk memahami hubungan atau korelasi. Spearman menyatakan bahwa kecakapan intelektual terdiri dari dua macam yang disebut sebagai teori dua factor, teori tersebut antara lain :
1.      General ability atau general faktor (“g” faktor). Faktor ini terdapat pada semua individu, tetapi berbeda satu dengan yang lainnya (mendasari semua perilaku orang). Faktor ini selalu didapati dalam semua “performance”. Faktor ini selalu didapati dalam semua performance. Karakteristik faktor “g”: merupakan kemampuan umum yang dibawa sejak lahir, bersifat konstan, dipergunakan dalam setiap kegiatan individu, jumlah faktor “g” setiap individu berbeda, dan semakin besar jumlah “g” yang ada dalam diri seseorang, maka makin besar kemungkinan kesuksesan hidupnya. Faktor ini umumnya berhubungan dengan Kemampuan menyelesaikan masalah atau tugas-tugas secara umum (misalnya, kemampuan menyelesaikan soal-soal matematika).
2.      Special ability atau special faktor (s faktor). Faktor ini merupakan faktor yang khusus mengenai bidang tertentu (berfungsi pada perilaku-perilaku khusus saja). Faktor “s” mempunyai beberapa karakteristik, antara lain sebagai berikut: dipelajari dan diperoleh dari lingkungan, bervariasi dari kegiatan yang satu dengan lainnya dari individu yang sama, jumlah muatan “s” pada tiap-tiap individu berbeda. Dengan demikian, maka jumlah faktor ini banyak, misalnya ada S1, S2, S3, dan sebagainya sehingga kalau pada seseorang “s” factor dalam bidang tertentu dominan, maka orang itu akan menonjol dalam bidang tersebut. Umumnya contoh dari faktor ini dapat dilihat dari kemampuan menyelesaikan masalah atau tugas - tugas secara khusus (misalnya, mengerjakan soal-soal perkalian,atau penambahan dalam matematika).

Setelah menggunakan teknik yang dikenal sebagai analisis faktor untuk untuk memeriksa sejumlah tes bakat mental, Spearman menyimpulkan bahwa skor pada tes ini sangat mirip. Orang yang memiliki kinerja yang baik pada satu tes kognitif cenderung melakukan dengan baik pada tes lain, sementara mereka yang mendapat skor buruk pada satu tes cenderung memiliki skor buruk pada tes  lain. Dia menyimpulkan bahwa kecerdasan adalah kemampuan umum kognitif yang dapat diukur dan dinyatakan secara numerik.
Spearman berspekulasi bahwa jika semua tes mental berkorelasi positif harus ada beberapa variabel umum atau faktor yang menghasilkan korelasi positif. Pada tahun 1904 Spearman menerbitkan  artikel yang menggunakan metode statistik untuk menunjukkan bahwa korelasi positif antara tes mental memang dihasilkan dari faktor pokok umum. Metode ini dikenal sebagai analisis faktor. Dengan Menggunakan faktor analisis Spearman percaya akan ada kemungkinan untuk mengidentifikasi kelompok tes yang mengukur kemampuan umum. Berdasarkan teknik analisis faktor Charles Spearman menyatakan bahwa faktor derek langsung dapat mempengaruhi skor individu pada tes mental.Dia menyebutnya faktor pertama kecerdasan umum atau faktor umum" (Encarta.msn, 2006).
Faktor umum yang mewakili semua tes mental karena memiliki kesamaan. Skor pada semua tes berkorelasi positif. Dia percaya bahwa hal ini  di karenakan  semua tes digambarkan pada faktor umum. Faktor Kedua Charles Spearman adalah faktor tertentu. Faktor spesifik yang berhubungan dengan kemampuan apapun yang unik,  tes tertentu diperlukan sehingga tes yang satu berbeda dari tes yang lain. Spearman dan para pengikutnya lebih menekankan pada kecerdasan umum dari pada faktor tertentu.

B.     PENGUKURAN INTELEGENSI

Pada tahun 1904, Alfred Binet dan Theodor Simon, 2 orang psikolog Perancis merancang suatu alat evaluasi yang dapat dipakai untuk mengidentifikasi siswa-siswa yang memerlukan kelas-kelas khusus (anak-anak yang kurang pandai). Alat tes itu dinamakan Tes Binnet-Simon. Tes ini kemudian direvisi pada tahun 1911.
 Tahun1916,LewisTerman, seorang psikolog dari Amerika mengadakan banyak perbaikan dari Tes Binet-Simon. Sumbangan utamanya adalah menetapkan indeks numerik yang menyatakan kecerdasan sebagai rasio (perbandingan) antara mental age dan chronological age. Hasil perbaikan ini disebut Tes Stanford_binet. Indeks seperti ini sebetulnya telah diperkenalkan oleh psikolog Jerman yang bernama William Stern, yang kemudian dikenal dengan Intelligence Quotient atau IQ. Tes Stanford_Binet ini banyak digunakan untuk mengukur kecerdasan anak-anak sampai usia 13 tahun.
    Salah satu reaksi atas Tes Binet-Simon atau Tes Stanford-Binet adalah bahwa tes itu terlalu umum. Seorang tokoh dalam bidang ini, Charles Spearman mengemukakan bahwa inteligensi tidak hanya terdiri dari satu faktor yang umum saja (General factor), tetapi juga terdiri dari faktor-faktor yang lebih spesifik. Teori ini disebut teori faktor (Factor Theory of Intelligence). Alat tes yang dikembangkan menurut teori faktor ini adalah WAIS (Wechsler Adult Intelligence Scale) untuk orang dewasa, dan WISC (Wechsler Intelligence Scale for Children) untuk anak-anak.



C.    FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI BELAJAR PESERTA DIDIK
Menurut Slameto (2010: 54) ada dua faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar, yaitu faktor intern dan faktor ekstern.
Ø  Faktor intern, terdiri dari :
1.      Faktor Jasmaniah antara lain, faktor kesehatan, dan cacat tubuh.
2.      Faktor Psikologi yaitu, intelegensi, perhatian, minat, bakat, motif, kematangan dan kesiapan
3.      Faktor Kelelahan, faktor kelelahan sangat mempengaruhi hasil belajar, agar siswa dapat belajar dengan baik haruslah menghindari jangan sampai terjadi kelelahan dalam belajarnya. Sehingga perlu diusahakan kondisi yang bebas dari kelelahan.

Ø  Faktor Ekstern terdiri dari :
1.      Faktor Keluarga, seperti cara orang tua mendidik, relasi antar anggota, suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga, pengertian orang tua, dan latar belakang kebudayaan.
2.      Faktor Sekolah, seperti metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, alat pelajaran, waktu sekolah, standar pelajaran di atas ukuran, keadaan gedung, metode belajar, dan tugas rumah.
3.      Faktor Masyarakat, seperti kegiatan siswa dalam masyarakat, teman bergaul, dan bentuk kehidupan masyarakat.







BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
Kecerdasan atau intelegensi adalah kemampuan adaptasi dan menggunakan pengetahuan yang di miliki dalam menghadapi berbagai masalah dalam hidup seseorang. Beberapa teori menyatakan bahwa kecerdasan merupakan kemampuan dasar yang dimiliki oleh individu dalam menentukan tujuan hidupnya.
Inteligensi/kecerdasan secara umum dipahami pada dua tingkat yakni: kecerdasan sebagai suatu kemampuan untuk memahami informasi yang membentuk pengetahuan dan kesadaran. Kecerdasan sebagai kemampuan untuk memproses informasi sehingga masalah-masalah yang kita hadapi dapat dipecahkan (problem solved) dan dengan demikian pengetahuan pun bertambah. (Djaali, 2006:63) memandang kecerdasan sebagai pemandu dan penyatu dalam mencapai sasaran secara efektif dan efisien.
Dengan kata lain, orang yang lebih cerdas, akan mampu memilih strategi pencapaian sasaran yang lebih baik dari orang yang kurang cerdas. Artinya orang yang cerdas mestinya lebih sukses dari orang yang kurang cerdas. Yang sering membingungkan ialah kenyataan adanya orang yang kelihatan tidak cerdas (sedikitnya di sekolah) kemudian tampil sukses, bahkan lebih sukses dari rekan-rekannya yang lebih cerdas, dan sebaliknya.







DAFTAR PUSTAKA



Tidak ada komentar:

Posting Komentar