MAKALAH
PSIKOLOGI DAKWAH
PENGERTIAN
DAN OBJEK KAJIAN PSIKOLOGI DAKWAH
KELOMPOK
1 :
1.
FHATUR
RACHMAN OLA (153 144
144)
2.
NURIATON
SAPITRI (
3.
M.
BAHRI (
III
BKI D
BIMBINGAN
DAN KONSELING ISLAM
FAKULTAS
DAKWAH DAN KOMUNIKASI
INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGERI MATARAM
2015
Kata
Pengantar
Assalamualaikum
Wr. Wb. ...
Pertama
– tama kita panjatkan puji syukur atas kehadirat Allah Swt karena telah
memberikan nikmat yang banyak kepada kita sehingga kita bisa membahas makalah
ini. Tak lupa pula sholawat serta salam kita sampaikan kepada junjungan Nabi
besar Muhammaad Saw, karena atas usaha beliau kita bisa merasakan indahnya
Islam seperti sekarang ini.
Sebagai
insan yang akademis, kita dituntut untuk berkonsentrasi pada aktivitas dan
pelayanan masyarakat. Di antara aktivitas yang kami harus lakukan adalah
menyelesaikan makalah dan mempresentasikannya. Kami pun akan terus berusaha
memotivasi teman-teman untuk banyak membaca dan menulis guna berbagi ilmu
pengetahuan kepada kita semua. Alhamdulillah,
pada kesempatan ini kami kelompok satu telah menyelesaikan makalah kami
yang berjudul “PENGERTIAN DAN OBJEK KAJIAN PSIKOLOGI DAKWAH”.
Sebagai
manusia, kami juga tak pernah luput dari salah dan khilaf. Untuk itu kami
harapkan kepada teman-teman atas partisipasinya dalam memberikan saran dan
kritik guna menyempurnakan makalah kami. Dan kepada dosen pembimbing, kami
memohon bimbingan dalam menyelesaikan makalah ini. Semoga dengan makalah ini
dapat memberikan manfaat kepada kita semua. Amiin...
Wassalamu’alaikum Wr. Wb. ...
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Dakwah
adalah usaha untuk mempengaruhi orang lain agar mereka bersikap dan bertingkah
laku seperti apa yang diinginkan oleh Da’i. Sebagai makhluk psikologis, manusia
adalah makhluk yang berfikir, merasa dan berkehendak. Kehendak manusia untuk
menerima atau menolak suatu ajakan dipengaruhi oleh cara berpikir dan cara
merasa. Cara berpikir dan cara merasa yang salah dapat mempengaruhi persepsi
dan pengambilan keputusan. Setiap orang memiliki cara berpikir dan cara merasa
yang berbeda – beda, dipengaruhi oleh pengetahuan, pengalaman, dan ufuk mental
masing – masing. Oleh karena itu, mengajak orang pintar harus dibedakan caranya
dengan mengajak orang awam. Tetapi secara umum orang hanya akan tertarik kepada
ajakan yang mempunyai sesuatu nilai lebih; lebih enak, lebih nyaman, lebih
terhormat, lebih prospektif, lebih menjanjikan dan sebagainya.
Adapun
orang yang menolak suatu ajakan yang mungkin disebabkan karena tidak mampu
memahami maksud ajakan itu, dimungkinkan dengan memberi dorongan. Berbeda
dengan ajakan yang dilakukan secara terbuka, dakwah dalam artii mendorong lebih
merupakan pekerjaan mengajak tetapi tidak secara terbuka. Jika pekerjaan
mengajak membutuhkan pengetahuan cara berpikir dan cara berpikir orang yang
diajak (Mad’u) dakwah dengan mendorong membutuhkan pengetahuan problem kejiwaan
yang sedang diidap oleh orang yang diajak (Mad’u). Berdakwah dengan pendekatan
psikologis (persuasif) memungkinkan orang mengikuti kehendak Mad’u, tetapi mereka merasa sedang
mengikuti kehendak sendiri.
B.
Rumusan
Masalah
Adapun
rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah kami adalah :
1. Apa
yang dimaksud dengan Psikologi?
2. Apa
yang dimaksud dengan Dakwah?
3. Apa
yang dimaksud dengan Psikologi Dakwah?
4. Apa
saja objek kajian Psikologi Dakwah?
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Psikologi
Bila
dilihat dari sudut terminology maka kata psikologi terdiridari 2 macam kata
yakni psyche berarti jiwa dan logos yang kemudian menjadi logi berarti ilmu.
Maka kata psikologi (psychology) berarti ilmu pengetahuan tentang jiwa, tidak
terbatas pada jiwa manusia saja akan tetapi termasuk juga jiwa binatang dan
sebagainya.
Dikalangan
ahli psikologi pengertian dari kata psikologi tersebut tidak terdapat
perbedaan, akan tetapi mereka berbeda dalam memberikan batasan atau definisi
psikologi. Perbedaan definisi yang diberikan oleh para ahli psikologi terhadap
psikologi adalah akibat dari perbedaan sudut pandangan yang berasaskan pada
perbedaan aliran-aliran paham dalam psikologi itu sendiri.[1]
Dalam
lapangan ilmu pengetahuan, psikologi merupakan salah satu pengetahuan yang
tergolong dalam “empirical science”, yaitu ilmu pengetahuan yang didasarkan
pada pengalaman manusia, walaupun pada awal perkembangannya bersumber pada
filsafat yang bersifat spekulatif. Dan memang, psikologi dalam sejarah
perkembangannya berutang budi pada filsafat. Filsafat sebagai induk ilmu
pengetahuan seperti yang diungkapkan oleh Will Durant, diibaratkan sebagai
pasukan marinir yang merebut partai untuk mendaratkan pasukan infantri. Pasukan
infantri adalah berbagai ilmu pengetahuan diantaranya adalah ilmu psikologi.
Filsafatlah yang memenangkan tempat berpijak, setelah itu ilmu tersebutlah yang
membelah gunung dan merambah hutan.[2]
Psikologi
menurut bahasa berasal dari kata Yunani yang terdiri dari 2 kata, psyche dan
logos. Psyche berarti jiwa dan logos berarti ilmu. Jadi, psikologi secara
bahasa, dapat berarti ilmu jiwa. Namun pengertian ilmu jiwa itu sendiri masih
dianggap kabur dan belum jelas. Hal ini disebabkan para sarjana belum mempunyai
kesepakatan tentang jiwa itu sendiri. Menurut Sarlito, tidak ada seorang pun
yang tahu dengan sesungguhnya apa yang dimaksud dengan jiwa itu sendiri, karena
jiwa adalah suatu kekuatan yang abstrak yang tidak tampak pada panca indera
wujud dan zatnya, melainkan yang tampak hanya gejala-gejalanya saja.
Bahkan
jika kita kembali pada Oxford Dictionary, maka kita akan mendapatkan kata
psyche mempunyai banyak arti seperti soul mind and spirit. Dalam islam istilah
jiwa juga mempunyai banyak makna seperti An-Nafs, Ar-Ruh, Al-Basyirat, dan
Al-Hayat. Oleh karena itu sering timbul pengertian yang berbeda-beda, dimana
banyak ilmuan memberikan definisi yang berbeda-beda pula sesuai dengan arah
minat dan aliran masing-masing.
Definisi
psikologi juga telah mengalami proses dan perkembangan yang begitu panjang.
Sebelum psikologi berdiri sendiri sebagai ilmu pengetahuan, para filsuf Yunani
telah membahasnya dalam tema ilmu jiwa sebagai salah satu gejala kejiwaan dalam
bahasa mereka tentang filsafat dan ilmu Faal.[3]
Para filsuf Yunani, seperti Aristoteles dan Plato yang hidup kira-kira 500 atau
600 SM misalkan mendefinisikan ilmu jiwa atau psyche sebagai ilmu pengetahuan
yang mempelajari hakikat jiwa dan prosesnya. Hal ini memang, karena filsafat
selalu mengkaji tentang hakikat segala sesuatu dengan mendasar dan menyeluruh.
Atau dengan kata lain filsafat memulai mengkaji sesuatu dengan pertanyaan dan
mengakhirinya dengan pertanyaan. Kajian-kajian pada masa ini tidak murni
didasarkan pada ilmu jiwa sebagai suatu ilmu, tetapi banyak dipengaruhi oleh
unsur-unsur filsafat, itulah sebabnya maka ilmu jiwa tersebut dinamakan ilmu
jiwa filsafat.
Pada
zaman Renaisance (zaman revolusi ilmu pengetahuan di Eropa) Rene Descartes
(1596-1560) seorang filsuf Prancis pernah mencetuskan definisi psikologi.
Descartes mengatakan psikologi adalah ilmu tentang kesadaran. Pada masa yang
sama George Berkeley (1685-1753) seorang filsuf Inggris mengemukakan bahwa ilmu
psikolgi adalah ilmu penginderaan (persepsi).
Perkembangan
definisi-definisi psikologi ini masih berlanjut hingga saat ini, diantaranya
menurut Behaviorisme, psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari dan
menyelidiki tentang tingkah laku manusia atau binatang seperti yang tampak
secara lahir. Aliran Behaviorisme menitik beratkan perhatian pada tingkah laku
lahiriah, karena hal tersebut dianggap sebagai gambaran perasaan batin atau
jiwa. Sedangkan aliran sosiologi mendefinisikan psikologi sebagai ilmu
pengetahuan yang mempelajari tentang proses adaptasi pada manusia dengan alam
sekitarnya.[4]
Beberapa
sarjana modern mencoba mengemukakan beberapa definisi psikologi diantaranya
Willhelm wundt seperti yang dikutip oleh H. M.Arifin mendefinisikan sebagai
ilmu pengetahuan yang mempelajari atau menyelidiki pengalaman yang timbul pada
pengalaman diri manusia seperti pengalaman panca indera merasakan sesuatu,
berpikir, berkehendak, dan bukan mempelajari pengalaman diluar diri manusia,
karena pengalaman yang demikian menjadi obyek kajian ilmu pengetahuan alam.
John C. Ruch mendefinisikan psikologi sebagai ilmu tentang aktivitas perilaku
dan mental. Ernes Hilger mengatakan, “Psychology is the Sience that studies the
Behavior of men and other animals” (ilmu jiwa dapat diberikan batasan sebagai
ilum pengetahuan yang mempelajari tingkah laku dari hewan dan manusia lainnya.
B.
Pengertian Dakwah
Dakwah secaara
bahasa mempunyai makna bermacam – macam ;
1.
Memanggil
dan menyeru, seperti dalam firman Allah surah Yunus ayat 25.
وَاللَّهُ
يَدْعُو إِلَى دَارِ السَّلامِ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
Artinya : “Allah
menyeru (manusia) ke Darussalam (surga) dan memberikan petunjuk kepada orang
yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam)”.
2. Menegaskan atau membela, baik
terhadap yang benar ataupun yang salah, yang positif ataupun yang negatif.
3. Suatu usaha berupa perkataan ataupun
perbuatan untuk menarik seseorang kepada suatu aliran atau agama tertentu.
4. Doa (permohonan), seperti dalam
firman Allah: “.... Aku mengabulkan
permohonan orang jika ia meminta kepada-Ku ....”
5. Meminta dan mengajak seperti
ungkapan, da’a bi as-syai’ yang
artinya meminta dihidangkan atau didatangkan makanan atau minuman.
Secara
terminologi, para ulama berbeda pendapat dalam menentukan dan mendefinisikan
dakwah, hal ini disebabkan oleh perbedaan mereka dalam memaknai dan memandang
kalimat dakwah itu sendiri. Sebagian ulama seperti yang diungkapkan oleh
Muhammad Abu al-Futuh dalam kitabnya Al-Madkhal
ila ‘Ilm ad-Da’wat mengataakan, bahwa dakwah adalah menyampaikan (At-tabligh) dan menerangkan (Al-Bayan) apa yang telah dibawa oleh
Nabi Muhammad Saw.[5]
Sebagian lagi menganggap dakwah sebagai ilmu dan pembelajaran (ta’lim). Definisi ini menurut penulis
lebih bersifat normatif dimana dakwah hanya
bersifat mencakup belajar dan mengajar tanpa melihat bahwa dakwah adalah
suatu proses penyampaian pesan-pesan pada orang lain dengan berbagai sarana,
diantara sarana itu adalah belajar dan mengajar. Jadi, belajar dan mengajar
sebenarnya hanyalah salah satu dari sisi dakwah yang lain. Muhammad al-Khaiydar
Husayn dalam kitabnya Ad-Da’wat ila
Al-Ishlah mengatakan, dakwah adalah mengajak kepada kebaikan dan petunjuk,
serta menyuruh kepada kebajikan (ma’ruf)
dan melarang kepada kejahatan (munkar)
agar mendapat kebahagiaan dunia dan akhirat.[6]
Ahmad Ghalwasy dalam kitabnya Ad-Da’wat
Al-Islamiyyat mendefinisikan dakwah sebagai pengetahuan yang dapat
memberikan segenap usaha yang bermacam – macam, yang mengacu pada upaya
penyampaian ajaran islam kepada seluruh manusia mecakup akidah, syariat, dan
akhlak. Abu Bakar Zakaria, dalam kitabnya, Ad-Da’wat
ila Al-Islam mendefinisikan dakwah sebagai kegiatan para ulama dengan
mengajarkan manusia apa yang baik bagi mereka dalam kehidupan dunia dan akhirat
menurut kemampuan mereka.[7]
Dari sekian
definisi dakwah yang telah ditulis, kami melihat para ulama sepakat bahwa
dakwah adalah suatu kegiatan untuk menyampaikan dan mengajarkan serta
mempraktikan ajaran islam di dalam kehidupan sehari – hari, seperti yang
dikemukakan oleh Muhammad Abu al-Futuh dalam kitabnya Al-Madkhal ila Ilm Ad-Da’wat, menurut beliau, dakwah adalah menyampaikan
dan mengajarkan ajaran islam kepada seluruh manusia dan mempraktikanya (thathbiq) dalam realitas kehidupan.
Menurut beliau, hakikat dakwah harus mencakup tiga fase pelaksanaan dakwah,
yaitu penyampaian, pembentukan dan pembinaan. Namun, ada juga para ulama
seperti Syekh Muhammad ar-Rawi mendefinisikan dakwah semata – mata dengan
landasan moral dan etika, tanpa melihat status sosial, budaya dan agama, karena
dakwah islam menurut beliau adalah dakwah universal yang mencakup semua unsur
dalam masyarakat. Beliau mengatakan bahwa, dakwah adalah norma – norma yang
sempurna bagi etika kemanusiaan dalam pelaksanaan hak – hak dan kewajiban.[8]
C.
Pengertian Psikologi Dakwah
Berdasarkan
definisi – definisi dakwah yang telah disebutkan di atas, sesungguhnya esensi
dakwah terletak pada usaha pencegahan (preventif)
dari penyakit – penyakit masyarakat yang bersifat psikis dengan cara
mengajak, memotivasi, merangsang, serta membimbing individu atau kelompok agar
sehat dann sejahtera jiwa dan raganya, sehingga mereka dapat menerima ajaran
agama dengan penuh kesadaran dan dapat menjalankan ajaran agama sesuai dengan
tuntutan syariat Islam.
Ruang
lingkup dakwah dalam hal ini adalah bagaimana membentuk sikap mental atau
kejiwaan yang mengarah pada perubahan tingkah laku individu dan masyarakat
sebagai objek dakwah sesuai dengan ajaran agama yang diserukan oleh seorang Da’i.
Dalam upaya
membentuk sikap mental dan perubahan tingkah laku Mad’u, usaha – usaha dakwah tidak terlepas dari studi psikologi
yang notabene mempelajari tingkah laku manusia sebagai cerminan dari hidup
kejiwaannya. Karena itu, psikologi dakwah dapat didefinisikan sebagai ilmu
pengetahuan yang mempelajari tentang gejala – gejala hidup manusia yang
terlibat dalam proses kegiatan dakwah.
Psikologi
dakwah dapat diberi batasan sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang
tingkah laku manusia yang merupakan cerminan hidup kejiwaannya untuk diajak
kepada pengalaman ajaran – ajaran islam demi kesejahteraan hidup manusia di
dunia dan akhirat.
Hidup
kejiwaan manusia muncul dalam bentuk perilaku yang positif dan negatif.
Perilaku negatif manusia bisa jadi cerminan jiwa manusia dalam bentuk perilaku
yang berlebihan, seperti yang berhubungan dengan kesenangan jasmani dan rohani.
Sebagai contoh, berhubungan dengan lawan jenis bagi seorang remaja pada masa pertumbuhannya
adalah merupakan suatu kesenangan dan kenilmatannya (kecenderungan). Sebagian dari
mereka cendrung mengangap aturan –aturan agama sebagai sebuah penghalang. Dalam
hal ini, bagaimana ajaran agama mampu dikomunikasikan kepada remaja sehingga
mereka tidak menganggap ajaran tersebut sebagai penghalang, dan bagaimana
mengomunikasiakn ajaran – ajaran tersebut sesuai dengan kondisi kejiwaannya,
inilah yang merupakan pokok pembahasan dalam psikologi dakwah.
Tujuan
psikologi dakwah adalah membantu dan memberikan pandangan kepada para Da’i tentang pola dan tingkah laku para Mad’u dan hal – hal yang mempengaruhi
tingkah laku tersebut yang berkaitan dengan aspek kejiwaan (psikis) sehingga
mempermudah para Da’i untuk mengajak
mereka pada apa yang dikehendaki oleh ajaran islam.[9]
D.
Objek Pembahasan Psikologi Dakwah
Dalam Kamus Ilmiah, objek berarti sasaran,
hal, perkara, atau orang yang menjadi pokok pembicaraan.[10]
Objek merupakan syarat mutlak bagi suatu ilmu pengetahuan. Berdasarkan objek
inilah ilmu pengetahuan menentukan langkah – langkahnya lebih lanjut dalam
mengkhususan masalahnya, atau objeklah yang akan membatasi masalah atau
persoalan.
Secara
otonom, psikologi dakwah mempunyai teori serta prinsip – prinsip dan sudut
pandang khusus yang berbeda dengan ilmu – ilmu lain. Suatu sudut pandang yang
spesifik terhadap suatu masalah biasanya disebut dengan “objek formal ilmu pengetahuan”,
sedangkan mengenai fakta – fakta yang diselidiki atau yang dipelajari suatu
ilmu merupakan “objek material”.
Setiap ilmu
pengetahuan memiliki objek material dan objek formal masing – masing. Objek
material berasal daari beberapa cabang ilmu pengetahuan yang sama, tapi tidak
satu pun ilmu pengetahuan yang memiiliki objek formal yang sama, objek formal
inilah yang membedakan suatu ilmu dengan ilmu lainnya. Psikologi dakwah,
sebagai gabungan psikologi dan dakwah, mempunyai objek pembahasan tersendiri
yang membedakannya dengan ilmu yang lain, baik objek material maupun formalnya.
Untuk
mengetahui pengertian tentang objek psikologi dakwah perlu dicoba terlebih
dahulu meletakkan dasar pertemuan dua disiplin ilmu yaitu psikologi dan dakwah
dengan jalan meminjam data dari kedua lapangan ilmu pengetahuan tersebut,
kemudian atas dasar tersebut dapat ditemukan objek pembahasan sendiri. Kalau
pembahasan psikologi dakwah lebih berat tekanannya pada aspek psikologi, maka
psikologi dakwah mempunyai objek yang sama dengan objek psikologi pada umumnya,
tetapi bila pembahasan dittitik beratkan pada aspek dakwah, maka objek
psikologi dakwah sama dengan objek yang menjadi pokok pembicaraan dalam ilmu
dakwah.
Objek
material psikologi dakwah adalah manusia sebagai objek psikologi dan sebagai
sasaran dakwah. Objek formal ilmu pengetahuan justru ditunjukkan oleh rumusan
atau definisi ilmu pengetahuan tersebut. Karena itu, H. M. Arifin mengatakan
bahwa, psikologi dakwah adalah ilmu pengetahuan yang bertugas mempelajari atau membahas
tentang segala gejala hidup kejiwaan manusia yang terlibat dalam proses
kegiatan dakwaah. Sedangkan Achmad Mubarok menganggap psikologi dakwah sebagai
ilmu yang berusaha menguraikan, meramalkan, dan mengendalikan tingkah laku
manusia yang terkait dengan proses dakwah.[11]
Jadi, objek formal psikologi dakwah adalah segala hidup kejiwaan (tingkah laku)
manusia yang terlibat proses dakwah.
Manusia
sebagai objek psikologi dakwah memiliki sikap dan tingkah laku yang berbeda
satu dengan yang lain. Masing – masing individu memiliki karekteristik
tersendiri yang dipengaruhi oleh hereditas (pewarisan) dan lingkungannya.
Karekteristik manusia yang dipengaruhi oleh hereditas dan lingkungan merupakan
karekteristik manusia apa adanya. Karena itu, untuk mencapai tujuan dakwah
secara maksimal kearah ajaran agama yang sempurna, seorang Da’i harus memperhatikan kondisi sasara dakwah agar pelaksana
dakwah mampu melaksanakan pendekatan – pendekatan secara psikologis yang
bersifat fleksibel terhadap sasaran dakwah (Mad’u).
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari sekian
definisi dakwah yang telah ditulis, kami melihat para ulama sepakat bahwa
dakwah adalah suatu kegiatan untuk menyampaikan dan mengajarkan serta
mempraktikan ajaran islam di dalam kehidupan sehari – hari, hakikat dakwah harus mencakup tiga
fase pelaksanaan dakwah, yaitu penyampaian, pembentukan dan pembinaan.
psikologi
dakwah dapat didefinisikan sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang
gejala – gejala hidup manusia yang terlibat dalam proses kegiatan dakwah. Tujuan psikologi dakwah adalah
membantu dan memberikan pandangan kepada para Da’i tentang pola dan tingkah laku para Mad’u dan hal – hal yang mempengaruhi tingkah laku tersebut yang
berkaitan dengan aspek kejiwaan (psikis) sehingga mempermudah para Da’i untuk mengajak mereka pada apa yang
dikehendaki oleh ajaran islam. Sedangkan Achmad Mubarok menganggap psikologi
dakwah sebagai ilmu yang berusaha menguraikan, meramalkan, dan megendalikan
tingkah laku manusia yang terkait dengan proses dakwah.
Objek material
psikologi dakwah adalah manusia sebagai objek psikologi dan sebagai sasaran
dakwah sedangkan objek formal psikologi dakwah adalah segala hidup kejiwaan
(tingkah laku) manusia yang terlibat proses dakwah.
DAFTAR
PUSTAKA
al-Bayanuni, Muhammad Abu al-Futuh, al-Madkhal ila ‘Ilm ad-Da’wat (Beirut: Muassasat
al-Risalat, 1991).
ar-Rawi, Syekh Muhammad, ad-Da’wat al-Islamiyyat: Da’wat
‘Alamiyyat (Kairo: Dar al-Kutub al-Mishriyyat, 1972).
Arifin, Psikologi Dakwah Suatu Pengantar Studi, (Jakarta: Bumi Aksara,
2004).
Durant, Will, The Story of Phiosophy, (New York: Simon
and Sehuster, 1933).
Effendi, Lalu Muchsin dan Faizah,
Psikologi Dakwah, (Jakarta: Kencana,
2006).
Gerungan, W. A., Psikologi Sosial, (Bandung: PT. Eresco,
1988).
Husayn, Muhammad al-Khaydar, ad-Da’wat ila al-Ishlah (Kairo: Maktabat
al-Azhar, tt.).
Mubarok, Achmad, Psikologi Dakwah, (Jakarta: Pustaka
Firdaus, 1999).
Partanto, Pius A. dan M. Dahlan
al-Barry, Kamus Ilmiah Populer,
(Surabaya: Penerbit Arloka, tt.).
Sarwono, Sarlito Wirawan, Pengantar Umum Psikologi, (Jakarta:
Bulan Bintang, 2000).
Zakaria,
Abu Bakar, ad-Da’wat ila al-Islam
(Kairo: Maktabah Dar al-Arubat, 1962).
[1]
Prof. H. M. Arifin M. Ed., Psikologi
Dakwah Suatu Pengantar Studi, (Jakarta: Bumi Aksara, 2004), hlm. 12
[2] Will
Durant, The Story of Phiosophy, (New
York: Simon and Sehuster, 1933), hlm. 1
[3] Sarlito
Wirawan Sarwono, Pengantar Umum Psikologi,
(Jakarta: Bulan Bintang, 2000), hlm 3
[4] W. A.
Gerungan, Psikologi Sosial, (Bandung:
PT. Eresco, 1988), hlm. 28
[5]
Muhammad Abu al-Futuh al-Bayanuni, al-Madkhal
ila ‘Ilm ad-Da’wat (Beirut: Muassasat al-Risalat, 1991), hlm. 14
[6] Muhammad
al-Khaydar Husayn, ad-Da’wat ila
al-Ishlah (Kairo: Maktabat al-Azhar, tt.), hlm. 10
[7] Abu
Bakar Zakaria, ad-Da’wat ila al-Islam
(Kairo: Maktabah Dar al-Arubat, 1962), hlm. 8
[8]
Syekh Muhammad ar-Rawi, ad-Da’wat
al-Islamiyyat: Da’wat ‘Alamiyyat (Kairo: Dar al-Kutub al-Mishriyyat, 1972),
hlm. 12
[9]
Faizah S.Ag MA. dan H. Lalu Muchsin Effendi, Lc. MA, Psikologi Dakwah, (Jakarta: Kencana, 2006) hlm. 9
[10]
Pius A. Partanto dan M. Dahlan al-Barry, Kamus
Ilmiah Populer, (Surabaya: Penerbit Arloka, tt.), hlm. 531
[11] Achmad
Mubarok, Psikologi Dakwah, (Jakarta:
Pustaka Firdaus, 1999), hlm. 3
Tidak ada komentar:
Posting Komentar