Jumat, 16 Oktober 2015

pengertian dan objek kajian psikologi dakwah



MAKALAH PSIKOLOGI DAKWAH
PENGERTIAN DAN OBJEK KAJIAN PSIKOLOGI DAKWAH
KELOMPOK 1 :
1.      FHATUR RACHMAN OLA                      (153 144 144)
2.      NURIATON SAPITRI                                (
3.      M. BAHRI                                                     (
III BKI D

BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAM
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI MATARAM
2015

Kata Pengantar

Assalamualaikum Wr. Wb. ...
Pertama – tama kita panjatkan puji syukur atas kehadirat Allah Swt karena telah memberikan nikmat yang banyak kepada kita sehingga kita bisa membahas makalah ini. Tak lupa pula sholawat serta salam kita sampaikan kepada junjungan Nabi besar Muhammaad Saw, karena atas usaha beliau kita bisa merasakan indahnya Islam seperti sekarang ini.
Sebagai insan yang akademis, kita dituntut untuk berkonsentrasi pada aktivitas dan pelayanan masyarakat. Di antara aktivitas yang kami harus lakukan adalah menyelesaikan makalah dan mempresentasikannya. Kami pun akan terus berusaha memotivasi teman-teman untuk banyak membaca dan menulis guna berbagi ilmu pengetahuan kepada kita semua. Alhamdulillah, pada kesempatan ini kami kelompok satu telah menyelesaikan makalah kami yang berjudul “PENGERTIAN DAN OBJEK KAJIAN PSIKOLOGI DAKWAH”.
Sebagai manusia, kami juga tak pernah luput dari salah dan khilaf. Untuk itu kami harapkan kepada teman-teman atas partisipasinya dalam memberikan saran dan kritik guna menyempurnakan makalah kami. Dan kepada dosen pembimbing, kami memohon bimbingan dalam menyelesaikan makalah ini. Semoga dengan makalah ini dapat memberikan manfaat kepada kita semua. Amiin...
Wassalamu’alaikum Wr. Wb. ...
BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang
Dakwah adalah usaha untuk mempengaruhi orang lain agar mereka bersikap dan bertingkah laku seperti apa yang diinginkan oleh Da’i. Sebagai makhluk psikologis, manusia adalah makhluk yang berfikir, merasa dan berkehendak. Kehendak manusia untuk menerima atau menolak suatu ajakan dipengaruhi oleh cara berpikir dan cara merasa. Cara berpikir dan cara merasa yang salah dapat mempengaruhi persepsi dan pengambilan keputusan. Setiap orang memiliki cara berpikir dan cara merasa yang berbeda – beda, dipengaruhi oleh pengetahuan, pengalaman, dan ufuk mental masing – masing. Oleh karena itu, mengajak orang pintar harus dibedakan caranya dengan mengajak orang awam. Tetapi secara umum orang hanya akan tertarik kepada ajakan yang mempunyai sesuatu nilai lebih; lebih enak, lebih nyaman, lebih terhormat, lebih prospektif, lebih menjanjikan dan sebagainya.
Adapun orang yang menolak suatu ajakan yang mungkin disebabkan karena tidak mampu memahami maksud ajakan itu, dimungkinkan dengan memberi dorongan. Berbeda dengan ajakan yang dilakukan secara terbuka, dakwah dalam artii mendorong lebih merupakan pekerjaan mengajak tetapi tidak secara terbuka. Jika pekerjaan mengajak membutuhkan pengetahuan cara berpikir dan cara berpikir orang yang diajak (Mad’u) dakwah dengan mendorong membutuhkan pengetahuan problem kejiwaan yang sedang diidap oleh orang yang diajak (Mad’u). Berdakwah dengan pendekatan psikologis (persuasif) memungkinkan orang mengikuti kehendak Mad’u, tetapi mereka merasa sedang mengikuti kehendak sendiri.
B.     Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah kami adalah :
1.      Apa yang dimaksud dengan Psikologi?
2.      Apa yang dimaksud dengan Dakwah?
3.      Apa yang dimaksud dengan Psikologi Dakwah?
4.      Apa saja objek kajian Psikologi Dakwah?



BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Psikologi
Bila dilihat dari sudut terminology maka kata psikologi terdiridari 2 macam kata yakni psyche berarti jiwa dan logos yang kemudian menjadi logi berarti ilmu. Maka kata psikologi (psychology) berarti ilmu pengetahuan tentang jiwa, tidak terbatas pada jiwa manusia saja akan tetapi termasuk juga jiwa binatang dan sebagainya.
Dikalangan ahli psikologi pengertian dari kata psikologi tersebut tidak terdapat perbedaan, akan tetapi mereka berbeda dalam memberikan batasan atau definisi psikologi. Perbedaan definisi yang diberikan oleh para ahli psikologi terhadap psikologi adalah akibat dari perbedaan sudut pandangan yang berasaskan pada perbedaan aliran-aliran paham dalam psikologi itu sendiri.[1]
Dalam lapangan ilmu pengetahuan, psikologi merupakan salah satu pengetahuan yang tergolong dalam “empirical science”, yaitu ilmu pengetahuan yang didasarkan pada pengalaman manusia, walaupun pada awal perkembangannya bersumber pada filsafat yang bersifat spekulatif. Dan memang, psikologi dalam sejarah perkembangannya berutang budi pada filsafat. Filsafat sebagai induk ilmu pengetahuan seperti yang diungkapkan oleh Will Durant, diibaratkan sebagai pasukan marinir yang merebut partai untuk mendaratkan pasukan infantri. Pasukan infantri adalah berbagai ilmu pengetahuan diantaranya adalah ilmu psikologi. Filsafatlah yang memenangkan tempat berpijak, setelah itu ilmu tersebutlah yang membelah gunung dan merambah hutan.[2]
Psikologi menurut bahasa berasal dari kata Yunani yang terdiri dari 2 kata, psyche dan logos. Psyche berarti jiwa dan logos berarti ilmu. Jadi, psikologi secara bahasa, dapat berarti ilmu jiwa. Namun pengertian ilmu jiwa itu sendiri masih dianggap kabur dan belum jelas. Hal ini disebabkan para sarjana belum mempunyai kesepakatan tentang jiwa itu sendiri. Menurut Sarlito, tidak ada seorang pun yang tahu dengan sesungguhnya apa yang dimaksud dengan jiwa itu sendiri, karena jiwa adalah suatu kekuatan yang abstrak yang tidak tampak pada panca indera wujud dan zatnya, melainkan yang tampak hanya gejala-gejalanya saja.
Bahkan jika kita kembali pada Oxford Dictionary, maka kita akan mendapatkan kata psyche mempunyai banyak arti seperti soul mind and spirit. Dalam islam istilah jiwa juga mempunyai banyak makna seperti An-Nafs, Ar-Ruh, Al-Basyirat, dan Al-Hayat. Oleh karena itu sering timbul pengertian yang berbeda-beda, dimana banyak ilmuan memberikan definisi yang berbeda-beda pula sesuai dengan arah minat dan aliran masing-masing.
Definisi psikologi juga telah mengalami proses dan perkembangan yang begitu panjang. Sebelum psikologi berdiri sendiri sebagai ilmu pengetahuan, para filsuf Yunani telah membahasnya dalam tema ilmu jiwa sebagai salah satu gejala kejiwaan dalam bahasa mereka tentang filsafat dan ilmu Faal.[3] Para filsuf Yunani, seperti Aristoteles dan Plato yang hidup kira-kira 500 atau 600 SM misalkan mendefinisikan ilmu jiwa atau psyche sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari hakikat jiwa dan prosesnya. Hal ini memang, karena filsafat selalu mengkaji tentang hakikat segala sesuatu dengan mendasar dan menyeluruh. Atau dengan kata lain filsafat memulai mengkaji sesuatu dengan pertanyaan dan mengakhirinya dengan pertanyaan. Kajian-kajian pada masa ini tidak murni didasarkan pada ilmu jiwa sebagai suatu ilmu, tetapi banyak dipengaruhi oleh unsur-unsur filsafat, itulah sebabnya maka ilmu jiwa tersebut dinamakan ilmu jiwa filsafat.
Pada zaman Renaisance (zaman revolusi ilmu pengetahuan di Eropa) Rene Descartes (1596-1560) seorang filsuf Prancis pernah mencetuskan definisi psikologi. Descartes mengatakan psikologi adalah ilmu tentang kesadaran. Pada masa yang sama George Berkeley (1685-1753) seorang filsuf Inggris mengemukakan bahwa ilmu psikolgi adalah ilmu penginderaan (persepsi).
Perkembangan definisi-definisi psikologi ini masih berlanjut hingga saat ini, diantaranya menurut Behaviorisme, psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari dan menyelidiki tentang tingkah laku manusia atau binatang seperti yang tampak secara lahir. Aliran Behaviorisme menitik beratkan perhatian pada tingkah laku lahiriah, karena hal tersebut dianggap sebagai gambaran perasaan batin atau jiwa. Sedangkan aliran sosiologi mendefinisikan psikologi sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang proses adaptasi pada manusia dengan alam sekitarnya.[4]
Beberapa sarjana modern mencoba mengemukakan beberapa definisi psikologi diantaranya Willhelm wundt seperti yang dikutip oleh H. M.Arifin mendefinisikan sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari atau menyelidiki pengalaman yang timbul pada pengalaman diri manusia seperti pengalaman panca indera merasakan sesuatu, berpikir, berkehendak, dan bukan mempelajari pengalaman diluar diri manusia, karena pengalaman yang demikian menjadi obyek kajian ilmu pengetahuan alam. John C. Ruch mendefinisikan psikologi sebagai ilmu tentang aktivitas perilaku dan mental. Ernes Hilger mengatakan, “Psychology is the Sience that studies the Behavior of men and other animals” (ilmu jiwa dapat diberikan batasan sebagai ilum pengetahuan yang mempelajari tingkah laku dari hewan dan  manusia lainnya.
B.     Pengertian Dakwah
Dakwah secaara bahasa mempunyai makna bermacam – macam ;
1.      Memanggil dan menyeru, seperti dalam firman Allah surah Yunus ayat 25.

وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى دَارِ السَّلامِ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Artinya : “Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga) dan memberikan petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam)”.

2.      Menegaskan atau membela, baik terhadap yang benar ataupun yang salah, yang positif ataupun yang negatif.
3.      Suatu usaha berupa perkataan ataupun perbuatan untuk menarik seseorang kepada suatu aliran atau agama tertentu.
4.      Doa (permohonan), seperti dalam firman Allah: “.... Aku mengabulkan permohonan orang jika ia meminta kepada-Ku ....”
5.      Meminta dan mengajak seperti ungkapan, da’a bi as-syai’ yang artinya meminta dihidangkan atau didatangkan makanan atau minuman.
Secara terminologi, para ulama berbeda pendapat dalam menentukan dan mendefinisikan dakwah, hal ini disebabkan oleh perbedaan mereka dalam memaknai dan memandang kalimat dakwah itu sendiri. Sebagian ulama seperti yang diungkapkan oleh Muhammad Abu al-Futuh dalam kitabnya Al-Madkhal ila ‘Ilm ad-Da’wat mengataakan, bahwa dakwah adalah menyampaikan (At-tabligh) dan menerangkan (Al-Bayan) apa yang telah dibawa oleh Nabi Muhammad Saw.[5] Sebagian lagi menganggap dakwah sebagai ilmu dan pembelajaran (ta’lim). Definisi ini menurut penulis lebih bersifat normatif dimana dakwah hanya  bersifat mencakup belajar dan mengajar tanpa melihat bahwa dakwah adalah suatu proses penyampaian pesan-pesan pada orang lain dengan berbagai sarana, diantara sarana itu adalah belajar dan mengajar. Jadi, belajar dan mengajar sebenarnya hanyalah salah satu dari sisi dakwah yang lain. Muhammad al-Khaiydar Husayn dalam kitabnya Ad-Da’wat ila Al-Ishlah mengatakan, dakwah adalah mengajak kepada kebaikan dan petunjuk, serta menyuruh kepada kebajikan (ma’ruf) dan melarang kepada kejahatan (munkar) agar mendapat kebahagiaan dunia dan akhirat.[6] Ahmad Ghalwasy dalam kitabnya Ad-Da’wat Al-Islamiyyat mendefinisikan dakwah sebagai pengetahuan yang dapat memberikan segenap usaha yang bermacam – macam, yang mengacu pada upaya penyampaian ajaran islam kepada seluruh manusia mecakup akidah, syariat, dan akhlak. Abu Bakar Zakaria, dalam kitabnya, Ad-Da’wat ila Al-Islam mendefinisikan dakwah sebagai kegiatan para ulama dengan mengajarkan manusia apa yang baik bagi mereka dalam kehidupan dunia dan akhirat menurut kemampuan mereka.[7]
Dari sekian definisi dakwah yang telah ditulis, kami melihat para ulama sepakat bahwa dakwah adalah suatu kegiatan untuk menyampaikan dan mengajarkan serta mempraktikan ajaran islam di dalam kehidupan sehari – hari, seperti yang dikemukakan oleh Muhammad Abu al-Futuh dalam kitabnya Al-Madkhal ila Ilm Ad-Da’wat, menurut beliau, dakwah adalah menyampaikan dan mengajarkan ajaran islam kepada seluruh manusia dan mempraktikanya (thathbiq) dalam realitas kehidupan. Menurut beliau, hakikat dakwah harus mencakup tiga fase pelaksanaan dakwah, yaitu penyampaian, pembentukan dan pembinaan. Namun, ada juga para ulama seperti Syekh Muhammad ar-Rawi mendefinisikan dakwah semata – mata dengan landasan moral dan etika, tanpa melihat status sosial, budaya dan agama, karena dakwah islam menurut beliau adalah dakwah universal yang mencakup semua unsur dalam masyarakat. Beliau mengatakan bahwa, dakwah adalah norma – norma yang sempurna bagi etika kemanusiaan dalam pelaksanaan hak – hak dan kewajiban.[8]

C.    Pengertian Psikologi Dakwah
Berdasarkan definisi – definisi dakwah yang telah disebutkan di atas, sesungguhnya esensi dakwah terletak pada usaha pencegahan (preventif) dari penyakit – penyakit masyarakat yang bersifat psikis dengan cara mengajak, memotivasi, merangsang, serta membimbing individu atau kelompok agar sehat dann sejahtera jiwa dan raganya, sehingga mereka dapat menerima ajaran agama dengan penuh kesadaran dan dapat menjalankan ajaran agama sesuai dengan tuntutan syariat Islam.
Ruang lingkup dakwah dalam hal ini adalah bagaimana membentuk sikap mental atau kejiwaan yang mengarah pada perubahan tingkah laku individu dan masyarakat sebagai objek dakwah sesuai dengan ajaran agama yang diserukan oleh seorang Da’i.
Dalam upaya membentuk sikap mental dan perubahan tingkah laku Mad’u, usaha – usaha dakwah tidak terlepas dari studi psikologi yang notabene mempelajari tingkah laku manusia sebagai cerminan dari hidup kejiwaannya. Karena itu, psikologi dakwah dapat didefinisikan sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang gejala – gejala hidup manusia yang terlibat dalam proses kegiatan dakwah.
Psikologi dakwah dapat diberi batasan sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang tingkah laku manusia yang merupakan cerminan hidup kejiwaannya untuk diajak kepada pengalaman ajaran – ajaran islam demi kesejahteraan hidup manusia di dunia dan akhirat.
Hidup kejiwaan manusia muncul dalam bentuk perilaku yang positif dan negatif. Perilaku negatif manusia bisa jadi cerminan jiwa manusia dalam bentuk perilaku yang berlebihan, seperti yang berhubungan dengan kesenangan jasmani dan rohani. Sebagai contoh, berhubungan dengan lawan jenis bagi seorang remaja pada masa pertumbuhannya adalah merupakan suatu kesenangan dan kenilmatannya (kecenderungan). Sebagian dari mereka cendrung mengangap aturan –aturan agama sebagai sebuah penghalang. Dalam hal ini, bagaimana ajaran agama mampu dikomunikasikan kepada remaja sehingga mereka tidak menganggap ajaran tersebut sebagai penghalang, dan bagaimana mengomunikasiakn ajaran – ajaran tersebut sesuai dengan kondisi kejiwaannya, inilah yang merupakan pokok pembahasan dalam psikologi dakwah.
Tujuan psikologi dakwah adalah membantu dan memberikan pandangan kepada para Da’i tentang pola dan tingkah laku para Mad’u dan hal – hal yang mempengaruhi tingkah laku tersebut yang berkaitan dengan aspek kejiwaan (psikis) sehingga mempermudah para Da’i untuk mengajak mereka pada apa yang dikehendaki oleh ajaran islam.[9]

D.    Objek Pembahasan Psikologi Dakwah
Dalam Kamus Ilmiah, objek berarti sasaran, hal, perkara, atau orang yang menjadi pokok pembicaraan.[10] Objek merupakan syarat mutlak bagi suatu ilmu pengetahuan. Berdasarkan objek inilah ilmu pengetahuan menentukan langkah – langkahnya lebih lanjut dalam mengkhususan masalahnya, atau objeklah yang akan membatasi masalah atau persoalan.
Secara otonom, psikologi dakwah mempunyai teori serta prinsip – prinsip dan sudut pandang khusus yang berbeda dengan ilmu – ilmu lain. Suatu sudut pandang yang spesifik terhadap suatu masalah biasanya disebut dengan “objek formal ilmu pengetahuan”, sedangkan mengenai fakta – fakta yang diselidiki atau yang dipelajari suatu ilmu merupakan “objek material”.
Setiap ilmu pengetahuan memiliki objek material dan objek formal masing – masing. Objek material berasal daari beberapa cabang ilmu pengetahuan yang sama, tapi tidak satu pun ilmu pengetahuan yang memiiliki objek formal yang sama, objek formal inilah yang membedakan suatu ilmu dengan ilmu lainnya. Psikologi dakwah, sebagai gabungan psikologi dan dakwah, mempunyai objek pembahasan tersendiri yang membedakannya dengan ilmu yang lain, baik objek material maupun formalnya.
Untuk mengetahui pengertian tentang objek psikologi dakwah perlu dicoba terlebih dahulu meletakkan dasar pertemuan dua disiplin ilmu yaitu psikologi dan dakwah dengan jalan meminjam data dari kedua lapangan ilmu pengetahuan tersebut, kemudian atas dasar tersebut dapat ditemukan objek pembahasan sendiri. Kalau pembahasan psikologi dakwah lebih berat tekanannya pada aspek psikologi, maka psikologi dakwah mempunyai objek yang sama dengan objek psikologi pada umumnya, tetapi bila pembahasan dittitik beratkan pada aspek dakwah, maka objek psikologi dakwah sama dengan objek yang menjadi pokok pembicaraan dalam ilmu dakwah.
Objek material psikologi dakwah adalah manusia sebagai objek psikologi dan sebagai sasaran dakwah. Objek formal ilmu pengetahuan justru ditunjukkan oleh rumusan atau definisi ilmu pengetahuan tersebut. Karena itu, H. M. Arifin mengatakan bahwa, psikologi dakwah adalah ilmu pengetahuan yang bertugas mempelajari atau membahas tentang segala gejala hidup kejiwaan manusia yang terlibat dalam proses kegiatan dakwaah. Sedangkan Achmad Mubarok menganggap psikologi dakwah sebagai ilmu yang berusaha menguraikan, meramalkan, dan mengendalikan tingkah laku manusia yang terkait dengan proses dakwah.[11] Jadi, objek formal psikologi dakwah adalah segala hidup kejiwaan (tingkah laku) manusia yang terlibat proses dakwah.
Manusia sebagai objek psikologi dakwah memiliki sikap dan tingkah laku yang berbeda satu dengan yang lain. Masing – masing individu memiliki karekteristik tersendiri yang dipengaruhi oleh hereditas (pewarisan) dan lingkungannya. Karekteristik manusia yang dipengaruhi oleh hereditas dan lingkungan merupakan karekteristik manusia apa adanya. Karena itu, untuk mencapai tujuan dakwah secara maksimal kearah ajaran agama yang sempurna, seorang Da’i harus memperhatikan kondisi sasara dakwah agar pelaksana dakwah mampu melaksanakan pendekatan – pendekatan secara psikologis yang bersifat fleksibel terhadap sasaran dakwah (Mad’u).


BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Dari sekian definisi dakwah yang telah ditulis, kami melihat para ulama sepakat bahwa dakwah adalah suatu kegiatan untuk menyampaikan dan mengajarkan serta mempraktikan ajaran islam di dalam kehidupan sehari – hari, hakikat dakwah harus mencakup tiga fase pelaksanaan dakwah, yaitu penyampaian, pembentukan dan pembinaan.
psikologi dakwah dapat didefinisikan sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang gejala – gejala hidup manusia yang terlibat dalam proses kegiatan dakwah. Tujuan psikologi dakwah adalah membantu dan memberikan pandangan kepada para Da’i tentang pola dan tingkah laku para Mad’u dan hal – hal yang mempengaruhi tingkah laku tersebut yang berkaitan dengan aspek kejiwaan (psikis) sehingga mempermudah para Da’i untuk mengajak mereka pada apa yang dikehendaki oleh ajaran islam. Sedangkan Achmad Mubarok menganggap psikologi dakwah sebagai ilmu yang berusaha menguraikan, meramalkan, dan megendalikan tingkah laku manusia yang terkait dengan proses dakwah.
Objek material psikologi dakwah adalah manusia sebagai objek psikologi dan sebagai sasaran dakwah sedangkan objek formal psikologi dakwah adalah segala hidup kejiwaan (tingkah laku) manusia yang terlibat proses dakwah.


DAFTAR PUSTAKA

al-Bayanuni, Muhammad Abu al-Futuh, al-Madkhal ila ‘Ilm ad-Da’wat (Beirut: Muassasat al-Risalat, 1991).
ar-Rawi, Syekh Muhammad, ad-Da’wat al-Islamiyyat: Da’wat ‘Alamiyyat (Kairo: Dar al-Kutub al-Mishriyyat, 1972).
Arifin, Psikologi Dakwah Suatu Pengantar Studi, (Jakarta: Bumi Aksara, 2004).
Durant, Will, The Story of Phiosophy, (New York: Simon and Sehuster, 1933).
Effendi, Lalu Muchsin dan Faizah, Psikologi Dakwah, (Jakarta: Kencana, 2006).
Gerungan, W. A., Psikologi Sosial, (Bandung: PT. Eresco, 1988).
Husayn, Muhammad al-Khaydar, ad-Da’wat ila al-Ishlah (Kairo: Maktabat al-Azhar, tt.).
Mubarok, Achmad, Psikologi Dakwah, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1999).
Partanto, Pius A. dan M. Dahlan al-Barry, Kamus Ilmiah Populer, (Surabaya: Penerbit Arloka, tt.).
Sarwono, Sarlito Wirawan, Pengantar Umum Psikologi, (Jakarta: Bulan Bintang, 2000).
Zakaria, Abu Bakar, ad-Da’wat ila al-Islam (Kairo: Maktabah Dar al-Arubat, 1962).


[1] Prof. H. M. Arifin M. Ed., Psikologi Dakwah Suatu Pengantar Studi, (Jakarta: Bumi Aksara, 2004), hlm. 12
[2] Will Durant, The Story of Phiosophy, (New York: Simon and Sehuster, 1933), hlm. 1
[3] Sarlito Wirawan Sarwono, Pengantar Umum Psikologi, (Jakarta: Bulan Bintang, 2000), hlm 3
[4] W. A. Gerungan, Psikologi Sosial, (Bandung: PT. Eresco, 1988), hlm. 28
[5] Muhammad Abu al-Futuh al-Bayanuni, al-Madkhal ila ‘Ilm ad-Da’wat (Beirut: Muassasat al-Risalat, 1991), hlm. 14
[6] Muhammad al-Khaydar Husayn, ad-Da’wat ila al-Ishlah (Kairo: Maktabat al-Azhar, tt.), hlm. 10
[7] Abu Bakar Zakaria, ad-Da’wat ila al-Islam (Kairo: Maktabah Dar al-Arubat, 1962), hlm. 8
[8] Syekh Muhammad ar-Rawi, ad-Da’wat al-Islamiyyat: Da’wat ‘Alamiyyat (Kairo: Dar al-Kutub al-Mishriyyat, 1972), hlm. 12
[9] Faizah S.Ag MA. dan H. Lalu Muchsin Effendi, Lc. MA, Psikologi Dakwah, (Jakarta: Kencana, 2006) hlm. 9
[10] Pius A. Partanto dan M. Dahlan al-Barry, Kamus Ilmiah Populer, (Surabaya: Penerbit Arloka, tt.), hlm. 531
[11] Achmad Mubarok, Psikologi Dakwah, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1999), hlm. 3

Tidak ada komentar:

Posting Komentar