MAKALAH TENTANG HUBUNGAN TASAWUF
DENGAN ILMU FISAFAT DAN ILMU JIWA
DENGAN ILMU FISAFAT DAN ILMU JIWA
KATA
PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang
melimpahkan Rahmat, Taufiq, dan Hidayah-NYA, sehingga kami dapat menyelesaikan
makalah dengan judul “Hubungan Tasawuf Dengan Ilmu Filsafat, Dan Ilmu Jiwa”.
Sholawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Besar
Muhammad SAW yang telah membawa agama islam hingga kita dapat merasakan
indahnya hidup di bawah naungan islam yang kian hari di dambakan oleh umat yang
masih merasakan nikmat Nya islam.
Selanjutnya kami ucapkan terima kasih atas
dukungannya sehingga makalh ini dapat tersusun dengan sebagaimana mestinya.
Namun demikian, kami sepenuhnyamenginginkan dan sangat membutuhkan kritik dan
sarannya,demi kesempurnaan makalah ini. Karena makalah ini jauh dari
kesempurnaan, oleh karena itu kritik dan sarannya sangat kami butuhkan demi
kesempurnaan makalah kami.
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.....................................................................................
DAFTAR ISI...................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN.............................................................................
a. Latar belakang......................................................................................
b. Perumusan
Masalah..............................................................................
c. Tujuan Pembahasan..............................................................................
BAB II Pembahasan........................................................................................
BAB III PENUTUP.........................................................................................
a. Kesimpulan...........................................................................................
b. Saran.....................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................
BAB 1
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Ilmu tasawuf merupakan rumusan
tentang teoritis terhadap wahyu-wahyu yang berkenaan dengan hubungan antara
tuhan dengan manusia dan apa yang harus dilakukan oleh manusia agar dapat
berhubungan sedekat mungkin dengan tuhan baik dengan pensucian jiwa dan latihan-latihan
spritual. Sedangkan ilmu tasawuf merupakan disiplin ilmu keislaman yang banyak
mengedepankan pembicaraan tetang persoalan tentang akidah dan adapun filsafat
adalah rumusan teoritis terhadap wahyu tersebut bagai manusia mengenai
keberadaan (esensi), proses dan sebagainya, Seperti proses penciptaan alam dan
manusia. Sedangkan ilmu jiwa adalah ilmu yang membahas tentang gejala-gejala dan ktivitas kejiwaan manusia.
Maka dalam hal ini ilmu tasawuf
tentunya mempunyai hubungan-hubungan yang terkait dengan ilmu-ilmu keislaman
lainnya, baik dari segi tujuan, konsep dan kontribusi ilmu tasawuf terhadap
ilmu-ilmu tersebut dan begitu sebaliknya bagaimana kontribusi ilmu kioslaman yang
lain terhadap ilmu tasawuf. Maka dalam makalah kami ini kami telah membahas
hubungan ilmu tasawuf dengan beberapa ilmu keislaman lainnya, diantaranya: Ilmu
kalam, ilmu filsafat, ilmu jiwa, dan ilmu fikih. Dengan tujuan agar kita lebih
mampu mengkorelasikan ilmu-ilmu tersebut dan bisa membandingbandingkannya.
B. RUMUSAN MASALAH
1.
Apa hakekat Ilmu Tasawuf itu?
2. Apa hakekat Falsafah itu?
3.Apa hakekat Ilmu Jiwa itu?
4. Bagaimana hubungan Ilmu tasawuf
filsafat dan ilmu jiwa?
BAB II
PEMBAHASAN
PEMBAHASAN
A. HAKIKAT TASAWUF
1.
Pengertian Tasawuf
Istilah
"tasawuf"(sufism), yang telah sangat populer digunakan selama
berabad-abad, dan sering dengan bermacam-macam arti, berasal dari tiga huruf
Arab, sha, wau dan fa. Banyak pendapat tentang alasan atas asalnya dari sha wa
fa. Ada yang berpendapat, kata itu berasal dari shafa yang berarti kesucian
atau bersih. Sebagian berpendapat bahwa kata itu berasal dari kata shafwe yang
berarti baris atau deret, yang menunjukkan kaum Muslim awal yang berdiri di
baris pertama dalam salat atau dalam perang suci. Sebagian lainnya lagi berpendapat
bahwa kata itu berasal dari kata shuffah yang berarti serambi masjid Nabawi di
Madinah yang ditempati oleh para sahabat-sahabat nabi yang miskin dari golongan
Muhajirin. Ada pula yang menganggap bahwa kata tasawuf berasal dari shuf yang
berarti bulu domba, yang menunjukkan bahwa orang-orang yang tertarik pada
pengetahuan batin kurang memperdulikan penampilan lahiriahnya dan sering
memakai jubah yang terbuat dari bulu domba yang kasar sebagai simbol
kesederhanaan.
Harun Nasution mendefinisikan tasawuf sebagai ilmu yang mempelajari cara
dan jalan bagaimana orang Islam dapat sedekat mungkin dengan Alloh agar
memperoleh hubungan langsung dan disadari dengan Tuhan bahwa seseorang
betul-betul berada di hadirat Tuhan.
Ada
sebagian orang yang mulai menyebut dirinya sufi, atau menggunakan istilah
serupa lainnya yang berhubungan dengan tasawuf, yang berarti bahwa mereka
mengikuti jalan penyucian diri, penyucian "hati", dan pembenahan
kualitas watak dan perilaku mereka untuk mencapai maqam (kedudukan) orang-orang
yang menyembah Allah seakan-akan mereka melihat Dia, dengan mengetahui bahwa
sekalipun mereka tidak melihat Dia, Dia melihat mereka. Inilah makna istilah
tasawuf sepanjang zaman dalam konteks Islam.
Imam Junaid dari Baghdad (910 M.) mendefinisikan tasawuf sebagai
"mengambil setiap sifat mulia dan meninggalkan setiap sifat rendah". Syekh
Abul Hasan asy-Syadzili (1258 M.) syekh sufi besar dari Afrika Utara
mendefinisikan tasawuf sebagai "praktik dan latihan diri melalui cinta
yang dalam dan ibadah untuk mengembalikan diri kepada jalan Tuhan". Syekh
Ahmad Zorruq (1494 M.) dari Maroko mendefinisikan tasawuf sebagai berikut:
Ilmu yang dengannya dapat memperbaiki hati dan menjadikannya semata-mata bagi
Allah, dengan menggunakan pengetahuan tentang jalan Islam, khususnya fiqih dan
pengetahuan yang berkaitan, untuk memperbaiki amal dan menjaganya dalam
batas-batas syariat Islam agar kebijaksanaan menjadi nyata. Ia menambahkan,
"Fondasi tasawuf ialah pengetahuan tentang tauhid, dan setelah itu memerlukan
manisnya keyakinan dan kepastian; apabila tidak demikian maka tidak akan dapat
mengadakan penyembuhan 'hati'." Menurut Syekh Ibn Ajiba (1809 M):
Tasawuf adalah suatu ilmu yang dengannya Anda belajar bagaimana berperilaku
supaya berada dalam kehadiran Tuhan yang Maha ada melalui penyucian batin dan
mempermanisnya dengan amal baik. Jalan tasawuf dimulai sebagai suatu ilmu,
tengahnya adalah amal. dan akhirnva adalah karunia Ilahi.
2.
Tujuan Tasawuf
Tasawwuf sebagai mana disebutkan
dalam artinya di atas, bertujuan untuk memperoleh hubungan langsung dan
disadari dengan Tuhan, sehingga disadari benar bahwa seseorang berada di
hadirat Tuhan dan intisari dari itu adalah kesadaran akan adanya komunikasi dan
dialog antara roh manusia dengan Tuhan dengan cara mengasingkan diri dan
berkontemplasi. Kesadaran dekat dengan Tuhan itu dapat mengambil bentuk ittihad
atau menyatu dengan Tuhan. Dalam ajaran Tasawuf, seorang sufi tidak begitu saja
dapat dekat dengan Tuhan, melainkan terlebih dahulu ia harus menempuh maqamat .
mengenai jumlah maqomat yang harus di tempuh sufi bebrbeda-beda,.
Abu Nasr Al- Sarraj menyebutkan tujuh maqomat yaitu
tobat, wara, zuhud, kefakiran, kesabaran, tawakkal, dan kerelaan hati. Dalam
perjalananya seorang shufi harus mengalami istilah hal (state). Hal atau ahwal
yaitu sikap rohaniah yang dianugrahkan Tuhan kepada manusia tanpa diusahakan
olehnya, seperti rasa takut( al- khauf) , ikhlas, rasa berteman, gembira hati,
dan syukur. Jalan selanjutnya adalah fana' atau lebur dalam realitas mutlak
(Allah). Manusia merasa kekal abadi dalam realitas yang Tertinggi, bahkan
meleburkan kepadaNya. Maksudnya, menghancurkan atau mensinarkan diri agar dapat
bersatu dengan Tuhan.
Menurut Taftazani seseorang yang
bertasawuf mempunyai beberapa ciri yaitu:
Peningkatan moral, seorang sufi memiliki nilai-nilai moral dengan tujuan membersihkan jiwa. Yaitu dengan akhlak dan budi pekerti yang baik berdasarkan kasih dan cinta kepada allah, oleh karena itu, maka tasawuf sangat mengutamakan adab/ nilai baik dalam berhubungan dengan sesama manusia dan terutama dengan Tuhan (zuhud, qonaah, thaat, istiqomah, mahabbah, ikhlas, ubudiyah, dll). Sirna (fana) dalam realitas mutlak (Allah). Manusia merasa kekal abadi dalam realitas yang Tertinggi, bahkan meleburkan kepadaNya. Maksudnya, menghancurkan atau mensinarkan diri agar dapat bersatu dengan Tuhan. Dan Ketenteraman dan kebahagiaan.
Peningkatan moral, seorang sufi memiliki nilai-nilai moral dengan tujuan membersihkan jiwa. Yaitu dengan akhlak dan budi pekerti yang baik berdasarkan kasih dan cinta kepada allah, oleh karena itu, maka tasawuf sangat mengutamakan adab/ nilai baik dalam berhubungan dengan sesama manusia dan terutama dengan Tuhan (zuhud, qonaah, thaat, istiqomah, mahabbah, ikhlas, ubudiyah, dll). Sirna (fana) dalam realitas mutlak (Allah). Manusia merasa kekal abadi dalam realitas yang Tertinggi, bahkan meleburkan kepadaNya. Maksudnya, menghancurkan atau mensinarkan diri agar dapat bersatu dengan Tuhan. Dan Ketenteraman dan kebahagiaan.
Sumber
Ajaran Tasawuf
: Sumber ajaran tasawuf adalah al-Qur'an dan Hadits yang didalamnya terdapat
ajaran yang dapat memebawa kepada timbulnya tasawuf. Paham bahwa Tuhan dekat
dengan manusia, yang merupakan ajaran dasarnya dapat dijelaskan dalam Al-Qur'an
Surat Al-Baqoroh ayat 186
3. Pengertian Filsafat
Menurut analisa Al-Farabi
filasafat berasal dari bahasa Yunani yaitu philosiphia. Philo berarti cinta dan
shopia berarti hikmah atau kebenaran. Menurut Plato, filsuf Yunani yang
termashur, murid Scorates dan guru Aristoteles mengatakan bahwa filsafat adalah
pengetahuan tentang segala sesuatu yang ada.
Marcus Tullius Cicero politikus dan ahli pidato romawi
merumuskan filsafat adalah pengatahuan tentang segala sesuatu yang maha agung
dan usaha-usaha untuk mencapainya. Al Farabi filosuf muslim
terbesar sebelum Ibn Sina mengatakan filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang
alam yang maujud dan brtujuan menyelidiki hakikatnya yang sebenarnya. Filsafat
itu ilmu pokok dan pangkal segala pengetahuan yang mencakup metafisika, etika,
agama, dan antripologi.
Immanuel Kant yang sering disebut raksasa
pikir barat, mengatakan bahwa Filsafat itu merupakan ilmu pokok dan pangkal
segala pengetahuan yang mencakup metafisika, etika, agama, dan antripologi. Dalam
filasafat terdapat dua obyek yaitu obyek materia dan obyek formanya. Obyek
materianya adalah sarwa yang ada pada garis besarnya dibagi atas tiga
persoalan, yaitu: Tuhan, alam, dan manusia. Sedangkan Obyek formannya adalah
usaha mencari keterangan secara radikal ( sedalam-dalamnya) tentang obyek materi
filsafat ( sarwa yang ada
itu adalah yang berpaling dari
dunia, menginginkan akhirat, memahami agamanya, konsisten beribadah kepada
Tuhannya, bersikap wara', menahan diri dari privasi kaum muslimin, ta'afuf
terhadap harta orang dan senantiasa menasihati jamaah
B.
PEGERTIAN ILMU JIWA
lmu jiwa (psikologi) adalah ilmu yang
mempelajari tentang perilaku dan proses mental yang terjadi pada manusia.
Dengan kata lain, ilmu ini meneliti tentang peranan yang dimainkan dalam
perilaku manusia. Psikologi meneliti tentang suara hati (dhamir), kemauan (iradah),
daya ingat, hafalan, prasangka (waham), dan kecenderungan-kecenderungan
(awathif) manusia. Itu semua menjadi lapangan kerja jiwa yang menggerakkan
perilaku manusia.
ilmu jiwa
mengarahkan pembahasan pada aspek batin yang di dalam Qur’an diungkapkan dengan
istilah insan. Dimana istilah ini berkaitan erat dengan kegiatan manusia yaitu
kegiatan belajar, tentang musuhnya, penggunaan waktunya, beban amanah yang
dipikulkan, konsekuensi usaha perbuatannya, keterkaitan dengan moral dan
akhlak, kepemimpinannya, ibadahnya dan kehidupannya di akhirat. Quraish Shihab
mengemukakan bahwa secara nyata terlihat dan sekaligus kita akui bahwa terdapat
manusia
yang
kelakuan baik dan sebaliknya.
Dalam diri manusia terdapat potensi
rohaniah yang cenderung kepada kebaikan dan keburukan. Potensi rohaniah secara
lebih dalam dikaji dalam ilmu jiwa. Untuk mengembangkan ilmu akhlak kita dapat
memanfaatkan informasi yang diberikan oleh ilmu jiwa. Di dalam ilmu jiwa
terdapat informasi tentang perbedaan psikologis yang dialami seseorang pada
setiap jenjang usianya.
C. HUBUNGAN TASAWUF DENGAN ILMU
FILSAFAH
Biasanya Tasawuf dan filsafah selalu
dipandang berlawanan. Ada juga anggapan bahwa pencarian jalan Tasawuf
mengharuskan pencelaan filsafat, tidak hanya berupa timbal balik dan saling
mempengaruhi, bahkan asimilasi (perpaduan) dan hubungan ini sama sekali tidak
terbatas pada kebencian dan permusuhan. Tasawuf adalah pencarian jalan ruhani,
kebersatuan dengan kebenaran mutlak dan pengetahuan mistik menurut jalan dan
sunnah. Sedangkan filsafah tidak dimaksudkan hanya filsafah peripatetic yang
rasionalistik, tetapi seluruh mazhab intelektual dalam kultur Islam yang telah
berusaha mencapai pengetahuan mengenai sebab awal melalui daya intelek.
Filsafat terdiri dari filsafat diskursif (bahtsi) maupun intelek intuitif
(dzawqi).
Hubungan antara Tasawuf dan
filsafat, yaitu :
- Bentuk hubungan yang paling luas antara Tasawuf dan filsafat tentu saja adalah pertentangan satu sama lain, sebagaimana tampak dalam karya-karya al-Ghazali bersaudara, Abu hamid dan Ahmad. Dan penyair sufi besar seperti Sana’I, Athar, dan Rumi. Kelompok sufi ini hanya memperhatikan aspek rasional dari filsafat, dan setiap kali berbicara tentang intelek, mereka tidak mengartikan intelek dalam arti mutlaknya, namun mengacu kepada aspek rasional intelek (akal). Athar juga memahami filsafat hanya sebagai filsafat peripatetic yang rasionalistik, dan menekankan bahwa hal itu tidak boleh dikelirukan dengan misteri ilahiah dan pengetahuan ilahiah, yang merupakan usaha puncak pensucian jiwa dibawah bimbingan spiritual para guru sufi.
- Hubungan antara Tasawuf dan filsafat tampak dalam munculnya bentuk khusus yang terjalin erat dengan filsafat. Meskipun bentuk tasawuf ini tidak menerima filsafat peripatetic dan mazhab-mazhab filsafat lain yang seperti itu, namun ia sendiri tercampur dengan filsafat atau teosofi (hikmah) dalam bentuknya yang paling luas. Dalam mazhab Tasawuf itu, intelek sebagai alat untuk mencapai realitas tentang yang mutlak dengan memperoleh kedudukan yang tinggi. Dengan demikian, dalam tasawuf berkembang satu jenis teosofi (ilmu ilahi) yang tidak hanya datang untuk menggantikan filsafat didunia Arab, tapi di Persia ia juga amat mempengaruhi jika bukan menggantikan filsafat dan kemudian secara amat efektif menggabungkan filsafat dan Tasawuf, bahkan mengganti nama Tasawuf menjadi Irfan (gnosis,makrifat) pada periode safawi. Hubungan Tasawuf dan filsafah berbeda dari apa yang diamati dalam tasawuf yang didominasi cinta, seperti pada Athar dan lainnya.
- Hubungan antara Tasawuf dan filsafat ditemukan dalam karya-karya para sufi yang sekaligus juga filosof, Yang telah berusaha untuk merujuk tasawuf dan filsafat. Afdhaluddin kasyani, Quthbuddin syirazi, Ibd Turkah al-Isfahani, dan Mir Abul Qosim findiriski, orang-orang ini seluruhnya adalah sufi yang berjalan pada jalan spiritual dan telah mencapai maqam spiritual, dan beberapa diantara mereka terdapat para wali, tetapi pada saat yang sama secara mendalam memahami filsafat dan cukup mengherankan, beberapa diantara mereka lebih tertarik pada filsafat peripatetic dan rasionalistik daripada filsafat intuitif (dzawqi), sebagaimana dapat diamati dalam kasus Mir Findiriski yang amat mendalami As-Syifanya Ibnu Sina. Diantara kelompok ini, Afdhaluddin Kasyani memegang kedudukan yang unik. Ia tidak hanya salah satu sufi terbesar yang hingga hari ini mouseleumnya di Maqam Kasyani menjadi tempat Ziarah, baik orang-orang yang awam maupun orang-orang terpelajar, tetapi ia juga dianggap sebagai salah satu filosof Persia terbesar yang sumbangannya bagi pengembangan bahasa filsafat Persia tak tertandingi. Karya-karya filsafatnya dalam logika, teologi, ataupun dalam ilmu-ilmu alam ditulis dalam bahasa Persia yang jelas dan fasih, dan merupakan Masterpiece dalam bahasa ini. Ia tidak hanya menunjukkan dengan jelas wawasan tasawuf dalam syair-syairnya, namun dalam hal logika dan filsafat yang paling ketat sekalipun. Figur besar lain seperti Quthbuddin al-Syirazi, yang dalam masa remajanya bergabung dengan para sufi dan juga menulis karya besar dalam filsafat peripatetic dalam bahasa Persia, Durrat al-Tajj, lalu bin Turkah Isfahani, yang Tamhid al-Qawaidnya merupakan Masterpiece filsafat sekaligus Tasawuf, dan Mir Abul Qosim Findiriski, yang menjadi komentator karya metafisika Hindu penting, Yoga Vaisithsa adalah sufi dan ahli makrifat yang kepadanya banyak mukjizat dinisbatkan.
- Kategorisasi umum kita mengenai hubungan Tasawuf dengan filsafat, mencakup para filosof yang mempelajari atau mempraktekan Tasawuf. Yang pertama dari kelompok ini adalah Al-Farabi, yang mempraktekan Tasawuf dan bahkan telah mengubah musik yang dimainkan dalam pertemuan Sama’ pada sufi, mutiara hikmah yang dinisbatkan kepadanya sangatlah penting. Karena, pada dasarnya, inilah buku mengenai filsafat maupun makrifat dan hingga kini diajarkan di Persia bersama komentar-komentar makrifati.
D. HUBUNGAN TASAWUF DENGAN
ILMU JIWA
Dalam
pembahasan Tasawuf dibicarakan tentang hubungan jiwa dengan badan. Yang
dikehendaki dari uraian tentang hubungan antara jiwa dan badan dalam Tasawuf
tersebut adalah terciptanya keserasian antara ke-2 nya. Pembahasan tentang jiwa
dan badan ini dikonsepsikan para sufi dalam rangka melihat sejauh mana hubungan
perilaku yang dipraktikan manusia dengan dorongan yang dimunculkan jiwanya
sehingga perbuatan itu dapat terjadi. Dari sini, baru muncul kategori-kategori
perbuatan manusia, apakah dkategorikan sebagai perbuatan jelek atau perbuatan
baik. Jika perbuatan yang ditampilkan seseorang baik, ia disebut orang yang
berakhlak baik. Sebaliknya, jika perbuatan yang ditampilkannya jelek, ia
disebut sebagai orang yang berakhlak jalek.
Dalalm pandangan kaum sufi, akhlak dan sifat
seseorang bergantung pada jenis jiwa yang berkuasa atas dirinya. Jika yang
berkuasa dalam tubuhnya adalah nafsu-nafsu hewani atau nabati, yang akan tampil
dalam perilakunya adalah perilaku hewani atau nabati pula. Sebaliknya, jika
yang berkuasa adalah nafsu insani, yang akan tampil dalam perilakunya adalah
perilaku insani pula. Orang yang sehat mentalnya adalah yang mampu merasakan
kebahagiaan dalam hidup, karena orang-orang inilah yang dapat merasakan bahwa
dirinya berguna, berharga, dan mampu menggunakan segala potensi dan bakatnya
semaksimal mungkin dengan cara membawa kebahagiaan dirinya dan orang lain.
Semua praktek dan
amalan-amalan dalam tasawuf adalah merupakan latihan rohani dan latihan jiwa
untuk melakukan pendakian spritual kerah yang lebih baik dan lebih sempurna.
Dengan demikian, amalan-amalan tasawuf tersebut adalah bertujuan untuk mencari
ketenangan jiwa dan keberhasilan ahli agar lebih kokoh dalam menempuh liku-liku
problem hidup yang beraneka ragam serta untuk mencari hakekat kebenaran yang
dapat mengatur segala-galanya dengan baik.
Manusia sebagai makhluk Allah memiliki jasmani dan rohani.
Salah satu unsur rohani manusia adalah hati (Qalbu) disamping hawa nafsu.
Karena itu penyakit yang dapat menimpa mansia ada dua macam, yaitu penyakit jasmani
dan penyakit rohani atau jiwa atau qalbu.
Di dalam
beberapa ayat Al-Qur’an dikatakan bahwa di dalam hati manusia itu ada penyakit,
Antara lain penyakit jiwa manusia itu adalah iri, dengki, takabur, resah,
gelisah, khawatir, stres
dan berbagai penyakit jiwa lainnya.
Dengan tasawuf manusia akan dapat menghindarkan diri dari
penyakit kejiwaan (psikologis) berupa prilaku memperturutkan hawa nafsu
keduniaan, seperti: iri, dengki, takabbur, resah, gelisah, khawatir, stress dan
berbagai penyakit jiwa lainnya.
Tasawuf berusaha untuk melakukan kontak batin dengan tuhan
bahwa berusaha untuk berada dihadirat Tuhan, sudah pasti akan memberikan
ketentraman batin dan kemerdekaan jiwa dari segala pengaruh penyakit jiwa.
Dengan
demikian antara tasawuf dengan ilmu jiwa memiliki hubungan yang erat karena
salah satu tujuan praktis dari ilmu jiwa adalah agar manusia memiliki
ketenangan hati, ketentraman jiwa dan terhindar dari penyakit-penyakit
psikologis seperti dengki, sombong, serakah, takabbur dan sebagainya.
Tasawuf juga
selalu membicarakan persoalan yang berkisar pada jiwa manusia. Hanya saja, jiwa
yang dimaksud adalah jiwa manusia muslim, yang tentunya tidak lepas dari
sentuhan-sentuhan keislaman. Dari sinilah tasawuf kelihatan identik dengan
unsur kejiwaan manusia muslim.
Dalam pembahasan tasawuf dibicarakan tentang hubungan jiwa dengan badan. Tujuan yang dikehendaki dari uraian tentang hubungan antara jiwa dan badan dalam tasawuf adalah terciptanya keserasian antara keduanya. Pembahasan tentang jiwa dan badan ini dikonsepsikan para sufi dalam rangka melihat sejauhmana hubungan perilaku yang diperaktekkan manusia dengan dorongan yang dimunculkan jiwanya sehingga perbuatan itu dapat terjadi. Dari sini baru muncul kategori-kategori perbuatan manusia, apakah dikategorikan sebagai perbuatan buruk atau perbuatan baik. Jika perbuatan yang ditampilkan seseorang adalah perbuatan baik, ia disebut orang yang berakhlak baik. Sebaliknya, jika perbuatan yang ditampilkan jelek ia disebut sebagai orang yang berakhlak buruk.
Dalam pembahasan tasawuf dibicarakan tentang hubungan jiwa dengan badan. Tujuan yang dikehendaki dari uraian tentang hubungan antara jiwa dan badan dalam tasawuf adalah terciptanya keserasian antara keduanya. Pembahasan tentang jiwa dan badan ini dikonsepsikan para sufi dalam rangka melihat sejauhmana hubungan perilaku yang diperaktekkan manusia dengan dorongan yang dimunculkan jiwanya sehingga perbuatan itu dapat terjadi. Dari sini baru muncul kategori-kategori perbuatan manusia, apakah dikategorikan sebagai perbuatan buruk atau perbuatan baik. Jika perbuatan yang ditampilkan seseorang adalah perbuatan baik, ia disebut orang yang berakhlak baik. Sebaliknya, jika perbuatan yang ditampilkan jelek ia disebut sebagai orang yang berakhlak buruk.
Dalam pandangan kaum sufi, akhlak dan sifat seseorang
tergantung pada jenis jiwa yang berkuasa pada dirinya. Jika yang berkuasa atas
dirinya adalah nafsu-nafsu hewani atau nabati, prilaku yang tampil adalah
prilaku hewani dan nabati pula. Sebaliknya, jika yang berkuasa adalah nafsu
insani, yang tampil adalah prilaku insani pula.
Kalau para sufi
menekankan unsur kejiwaan dalam konsepsi tentang manusia, berarti bahwa hakikat
zat, dan inti kehidupan manusia terletak pada unsur spritual dan kejiwaannya.
Ditekankannya unsur jiwa dalam konsepsi tasawuf tidaklah berarti bahwa para
sufi mengabaikan unsur jasmani manusia. Unsur ini juga mereka pentingkan karena
rohani sangat memerlukan jasmani dalam melaksanakan kewajibannya beribadah
kepada Allah dan menjadi khalifah-Nya dibumi. Unsur Islam dalam psikologi Islam
akan banyak berasal dari tasawuf. Dan hanya sedikit berbeda antara tasawuf dengan
ilmu kejiwaan adalah dari metode sistem pandangannya terhadap mempelajari
kejiwaan manusia. Jika kita lihat tasawuf melihat manusia dari sisi internalnya
artinya langsung mempelajari isi dan kondisi hati ataupun kejiwaan manusia
bagaimana seharusnya. Sedangkan ilmu jiwa ataupun yang sering dikenal dengan
psikologi mempelajari dan mendeskripsikan kejiwaan manusia dari eksternal
manusia yaitu dengan mempelajari hal-hal yang tampak dari sikap dan prilaku
manusia apa adanya karena menurutnya dari mempelajari prilakunya kita dapat
menggambarkan bagaimana kondisi kejiwaannya.
BAB III
KESIMPULAN
a) Hubungan Ilmu Tasawuf dengan ilmu
filsafat, Tasawuf adalah pencarian jalan ruhani,
kebersatuan
dengan kebenaran mutlak dan pengetahuan mistik menurut jalan dan sunnah.
Sedangkan filsafah tidak dimaksudkan hanya filsafah peripatetic yang
rasionalistik, tetapi seluruh mazhab intelektual dalam kultur Islam yang telah
berusaha mencapai pengetahuan mengenai sebab awal melalui daya intelek.
Filsafat terdiri dari filsafat diskursif (bahtsi) maupun intelek intuitif
(dzawqi).
b) Hubungan Ilmu Tasawuf dengan Ilmu
Fiqih adalah dua disiplin ilmu yang saling
melengkapi.
Setiap orang harus menempuh keduanya, dengan catatan bahwa kebutuhan
perseorangan terhadap kedua disiplin ilmu ini sangat beragam, sesuai dengan
kadar kualitas ilmunya. Dari sini dapat dipahami bahwa ilmu fikih, yanbg
terkesan sangat formalistik – lahiriyah, menjadi sangat kering, kaku, dan tidak
mempunyai makna bagi penghambaan seseorang jika tidak diisi dengan muatan
kesadaran rohaniyah yang dimiliki ilmu tsawuf. Begitu juga sebaliknya, tasawuf
akan terhindar dari sikap-sikap ”merasa suci” sehingga tidak perlu lagi
memperhatikan kesucian lahir yang diatur dalam ilmu fikih
.
c) Hubungan Ilmu Tasawuf dengan Ilmu
Jiwa adalah Dalam pembahasan tasawuf
dibicarakan
tentang hubungan jiwa dengan badan. Tujuan yang dikendaki dari uraian tentang
hubungan antara jiwa dan badan dalam tasawuf adalah terciptanya keserasian
antar keduanya. Pembahasan tentang jiwa dan badan ini dikonsepsikan para sufi
untuk melihat sejauh mana hubungan prilaku yang diperaktekan manusia dengan
dorongan yang dimunculkan jiwanya sehingga perbuatan itu terjadi, dari sini
terlihatlah perbuatan itu berakhlak baik atau sebaliknya.
Dari uraian diatas kami dapat mengambil suatu kesimpulan bahwa ilmu
tasawuf adalah suatu ilmu yang sangat penting dimiliki manusia karena dengan
ilmu tasawuf jiwa kita lebih tenang dan damai.
.
DAFTAR PUSTAKA :
-http://irpanharahap.blogspot.com/2011/07/hubungan-tasawuf-dengan-ilmu-lainnya.html
-http://ajiraksa.blogspot.com/2011/05/hubungan-tasawuf-dengan-ilmu-kalam-ilmu.html
http://www.jadilah.com/2011/11/hubungan-ilmu-kalam-tasawuf-dan.html
-http://www.cliquers-transetter.blogspot.com/2012/02/makalah-tentang-hubungan-tasawuf-dengan.html
-http://www.cliquers-transetter.blogspot.com/2012/02/makalah-tentang-hubungan-tasawuf-dengan.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar