Pisikoanalisis
Psikoanalisis
adalah sebuah metode yang sangat berpengaruh
mengobati gangguan mental
, dibentuk oleh teori psikoanalitik, yang menekankan proses mental bawah sadar
dan kadang-kadang digambarkan sebagai "psikologi mendalam."
Konsep dari teori Freud yang paling terkenal adalah tentang adanya
alam bawah sadar yang mengendalikan sebagian besar perilaku. Selain itu, dia
juga memberikan pernyataan pada awalnya bahwa prilaku manusia didasari pada
hasrat seksualitas pada awalnya (eros) yang pada awalnya dirasakan oleh
manusia semenjak kecil dari ibunya.
a. Pemikiran
dan teori
ü Freud membagi mind ke dalam consciousness, preconsciousness dan
unconsciousness. Dari ketiga aspek kesadaran, unconsciousness adalah yang
paling dominan dan paling penting dalam menentukan perilaku manusia (analoginya
dengan gunung es). Di dalam unsconscious tersimpan ingatan masa kecil, energi
psikis yang besar dan instink. Preconsciousness berperan sebagai jembatan
antara conscious dan unconscious, berisi ingatan atau ide yang dapat diakses
kapan saja. Consciousness hanyalah bagian kecil dari mind, namun satu-satunya
bagian yang memiliki kontak langsung dengan realitas.
ü Freud mengembangkan konsep struktur mind di atas dengan
mengembangkan ‘mind apparatus’, yaitu yang dikenal dengan struktur kepribadian
Freud dan menjadi konstruknya yang terpenting, yaitu id, ego dan super ego.
Ø ID
adalah struktur paling mendasar dari kepribadian, seluruhnya tidak disadari dan
bekerja menurut prinsip kesenangan, tujuannya pemenuhan kepuasan yang segera.
Ø Ego berkembang dari id, struktur kepribadian yang mengontrol
kesadaran dan mengambil keputusan atas perilaku manusia. Superego, berkembang
dari ego saat manusia mengerti nilai baik buruk dan moral.
Ø Superego merefleksikan nilai-nilai sosial dan menyadarkan individu
atas tuntuta moral. Apabila terjadi pelanggaran nilai, superego menghukum ego
dengan menimbulkan rasa salah.
Ego selalu
menghadapi ketegangan antara tuntutan id dan superego. Apabila tuntutan ini
tidak berhasil diatasi dengan baik, maka ego terancam dan muncullah kecemasan
(anxiety). Dalam rangka menyelamatkan diri dari ancaman, ego melakukan reaksi
defensif /pertahanan diri. Hal ini dikenal sebagai defense mecahnism yang
jenisnya bisa bermacam-macam,(
all repression).
Pendapat para ahli
1. Carl Gustav Jung (1875-1961)
Dikenal mengembangkan Analytical Psychology. Sebagai murid
Freud, Jung juga mengajukan keberatan terhadap beberapa konsep utama Freud yang
menyebabkan hubungan keduanya renggang dan retak. Perbedaan utama Jung dan
Freud terletak pada pandangan mereka tentang ketidaksadaran. Meskipun keduanya
sama-sama menekankan ketidaksadaran sebagai penentu perilaku manusia (bahkan
Jung lebih kuat dalam hal ini), tapi mereka berbeda posisi tentang asal
ketidaksadaran ini. Freud mengatakan bahwa unsur seksual adalah faktor utama
dan dominan dalam ketidaksadaran sementara Jung sangat tidak setuju dgn
pandangan ini dan menyatakan bahwa sumber ketidaksadaran adalah warisan dari
nenek moyang sehingga sifatnya sosial dan tergantung kelompok ras.
2. Alfred Adler (1870-1937)
Adler mengembangkan yang disebut sebagai Individual
Psychology. Banyak konsep Freud yang diikutinya, antara lain mengenai level
kesadaran. Namun Adler menekankan pada faktor kesadaran/unsur ego . Teorinya
banyak menyentuh unsur lingkungan sosial sehingga ia juga dikenal sebagai
seorang psikoanalis sosial yang pertama. Sebagai seorang pengikut Freud, Adler
memilih jalan berbeda dari Freud dan menganggap teori Freud sangat menekankan
unsur seksual sehingga kurang realistis.
Evaluasi Adler dan Jung:
Ø Adler dikenal dengan sumbangan teorinya yang optimistik dan berorientasi
pada masa depan dalam memandang manusia
Ø Jung memasukkan unsur budaya dalam aliran psikoanalisa sehingga
teorinya juga menjangkau bidang luas seperti sejarah, seni, dan lain-lain.
Berdasarkan teori Jung, para ahli tes psikologi seperti Eysenck dan Cattell
menyusun tes kepribadian setelah menguji validitas teori Jung secara statistic
v Unsur-unsur psikoanalisa yaitu :
-
ID :Insting biologis, insting,
naluri, prinsip kenikmatan
-
EGO : Kesadaran terhadap
realitas kehidupan
-
SUPEREGO : Kesadaran normative,
prinsip realisis idealistis
-
Ketiga hal tsb akan saling
berinteraksi dan akan menentukan perilaku seseorang
·
Tingkat Kesadaran :
Ø Sadar
Ø Pra Sadar
Ø Tak Sadar
Aliran ini menganggap bahwa manusia dalam berperilaku
cenderung dipengaruhi oleh alam tak sadar, masa lalu, dan dorongan biologis.
v Aliran Psikoanalisa
Ø
Konsep mental yang aktif. Konsep ini
terutama dianut oleh para ahli di Jerman. Pada waktu ini peran
dominanstrukturalisme di Jerman telahdiambil alih oleh aliran Gestalt. Paham
Gestalt menganggap struktur pengorganisasian mental manusia adalah inherent.Struktur
ini memungkinkan manusia belajar dan mendapatkan isi mental itu sendiri. Dengan
demikian, Gestalt berfokuspada konsep mental yang aktif namun tetap empiris.Psikoanalisa
mengikuti keaktifan mental dari Gestalt (Freud denganpsikodinamikanya pada
level kesadaran dan nonkesadaran) namun tidak empiris. Tidak seperti aliran
lainnya, psikoanalisa berkembang bukan dari riset para akademisi,tapi
berdasarkan pengalaman dari praktek klinis.Perkembangan treatment terhadap
gangguan mental.Pada masa ini penanganan terhadap penderita gangguan mental sangat
tidak manusiawi dan disamakan dengan para pelaku kriminal serta
orang-orang terlantar. Reformasi dalam penanganan penderita gangguan mental
diawali denganperbaikan fasilitas pengobatan, akhirnya mengarah pada perbaikan
di bidang teknik terapi bagi gangguan emosional dan perilaku.
Psikoanalisis memiliki tiga penerapan :
1)
suatu metoda penelitian dari pikiran.
2)
suatu ilmu
pengetahuan sistematis mengenai perilaku manusia.
3)
suatu metoda perlakuan terhadap
penyakit psikologis atau emosional.[3]
Dalam
cakupan yang luas dari psikoanalisis ada setidaknya 20 orientasi teoretis yang
mendasari teori tentang pemahaman aktivitas mental manusia dan perkembangan
manusia. Berbagai pendekatan dalam perlakuan yang disebut
"psikoanalitis" berbeda-beda sebagaimana berbagai teori yang juga
beragam. Psikoanalisis Freudian, baik teori maupun terapi berdasarkan ide-ide
Freud telah menjadi basis bagi terapi-terapi moderen dan menjadi salah satu
aliran terbesar dalam psikologi.. Sebagai tambahan, istilah psikoanalisis juga
merujuk pada metoda penelitian terhadap perkembangan anak.
Struktur
kepribadian
Menurut
freud, kehidupan jiwa memiliki tiga tingkatan kesadaran, yakni sadar
(en:conscious), prasadar (en:preconscious), dan tak-sadar (unconscious).
Aliran
psikoanalisis Freud merujuk pada suatu jenis perlakuan dimana orang yang
dianalisis mengungkapkan pemikiran secara verbal, termasuk asosiasi bebas, khayalan, dan mimpi,
yang menjadi sumber bagi seorang penganalisis merumuskan konflik tidak sadar
yang menyebabkan gejala yang dirasakan dan permasalahan karakter pada pasien,
kemudian menginterpretasikannya bagi pasien untuk menghasilkan pemahaman diri
untuk pemecahan masalahnya.
Psikopatologi
(Gangguan Mental)
v Pasien dewasa
Berbagai
psikosis melibatkan defisit dalam fungsi ego otonom pada integrasi (pengaturan)
pikiran, dalam kemampuan abstraksi, dan dalam hubungan dengan kenyataan dan uji
kenyataan. Dalam depresi dengan ciri-ciri psikotik, fungsi pemeliharaan diri
juga dapat rusak (kadang-kadang dengan pengaruh depresi berlebihan). Karena
defisit integratif (sering menyebabkan apa yang psikiater umum sebut “asosiasi
longgar,” “ benturan (blocking),” “ lompat gagasan (flight of ideas),”
“ palilalia (verbigeration),” dan “penarikan pikiran"),
pengembangan representasi diri dan objek yang terganggu. Oleh karena itu,
secara klinis, penderita psikotik menderita keterbatasan nyata dalam
kehangatan, empati, kepercayaan, identitas, kedekatan dan/atau stabilitas dalam
hubungan (karena ada masalah dengan kecemasan integrasi diri dan objek) juga pada pasien yang fungsi
ego otonomnya lebih utuh, tapi yang masih menunjukkan masalah dengan
hubungan-hubungan objek, diagnosis sering jatuh ke dalam kategori yang dikenal
sebagai “batas (borderline).” Pasien borderline juga menunjukkan
defisit, seringkali dalam mengendalikan impuls, pengaruh, atau fantasi, tetapi
kemampuan mereka untuk menguji kenyataan tetap kurang lebih utuh. Orang dewasa
yang tidak mengalami rasa bersalah dan malu, dan yang menikmati perilaku
kriminal, biasanya didiagnosis sebagai psikopat, atau dengan menggunakan DSM-
IV-TR, sebagai penderita gangguan kepribadian antisosial.
Panik,
fobia, konversi, obsesi, kompulsi, dan depresi (analis menyebutnya "gejala neurotik") biasanya tidak
disebabkan oleh defisit dalam fungsi. Sebaliknya, mereka disebabkan oleh
konflik intrapsikis. Konflik umumnya berkisar antara keinginan seksual dan
keinginan bermusuhan yang agresif, rasa bersalah dan malu, dan faktor realitas.
Konflik mungkin terjadi secara sadar atau tidak sadar, tapi menciptakan
kecemasan, efek depresif, dan kemarahan. Akhirnya, berbagai elemen tersebut
dikelola oleh operasi defensif, yaitu mekanisme menutup otak yang membuat orang
tidak menyadari adanya unsur konflik. “Repression” adalah istilah yang
diberikan kepada mekanisme yang menutup pikiran dari kesadaran. “Isolation
of affect” adalah istilah yang digunakan untuk mekanisme yang menutup
sensasi dari kesadaran. Gejala neurotik dapat terjadi dengan atau tanpa defisit
dalam fungsi ego, hubungan-hubungan objek, dan kekuatan ego. Oleh karena itu,
tidak jarang menemukan penderita skizofrenia obsesif-kompulsif, pasien panik
yang juga menderita gangguan kepribadian borderline,dll.
v Asal Masa Kanak-Kanak
Teori
Freudian percaya bahwa masalah dewasa dapat ditelusuri dari konflik yang belum
diselesaikan dari fase-fase tertentu dari masa kanak-kanak dan remaja, yang disebabkan oleh fantasi yang berasal dari
mereka sendiri. Freud, berdasarkan data yang dikumpulkan dari pasien di awal
karirnya, menduga bahwa gangguan neurotik terjadi ketika anak-anak mengalami
pelecehan seksual di masa kecil (yang disebut teori seduksi). Kemudian, Freud
menjadi percaya bahwa, meskipun kekerasan terhadap anak terjadi, gejala
neurotik tidak ada kaitannya dengan hal ini. Dia percaya bahwa orang-orang
neurotik sering mengalami konflik bawah sadar yang melibatkan fantasi incest
yang berasal dari berbagai tahap perkembangan. Ia menemukan tahapannya dari
sekitar tiga sampai enam tahun (tahun-tahun prasekolah, (sekarang ini disebut
"tahap genital pertama") yang diisi dengan fantasi memiliki hubungan
romantis dengan kedua orang tuanya. Argumen dengan cepat dihasilkan di Wina
pada awal abad ke-20 tentang apakah seduksi orang dewasa terhadap anak-anak,
yaitu pelecehan
seksual, adalah dasar dari penyakit neurotik. Masih belum ada
kesepakatan lengkap, meskipun saat ini para profesional mengakui adanya efek
negatif dari pelecehan seksual terhadap kesehatan mental anak.
Banyak
psikoanalis yang bekerja anak-anak telah mempelajari efek pelecehan anak yang
sebenarnya, yang meliputi defisit ego dan hubungan objek serta konflik neurotik
yang parah. Banyak penelitian telah dilakukan pada jenis trauma ini di masa
kanak-kanak, dan gejala sisanya pada saat mereka telah dewasa. Dalam
mempelajari faktor masa kanak-kanak yang memicu timbulnya gejala neurotik,
Freud menemukan sekumpulan faktor yang untuk alasan penulisan, disebutnya
sebagai “Oedipus Kompleks” (berdasarkan drama karya Sophokles, Oedipus Rex, di mana sang tokoh
protagonis tanpa disadari membunuh ayahnya, Laius dan menikahi ibunya,
Jocasta). Validitas Oedipus Kompleks sekarang banyak diperdebatkan dan
ditolak.Istilah singkatnya, yaitu ‘oedipal’ kemudian dijelaskan oleh Joseph J.
Sandler di dalam buku On the Concept Superego (1960) dan dimodifikasi
oleh Charles Brenner di dalam buku The Mind in Conflict (1982) dengan
mengacu pada kasih sayang anak-anak untuk orang tua mereka pada tahun-tahun
prasekolah. Keterangan tambahan ini melibatkan fantasi hubungan seksual dengan
salah satu atau kedua orang tuanya, dan, karena itu, fantasi kompetitif
terhadap salah satu atau kedua orang tuanya
Konflik
oedipal yang “positif” maupun “negatif” telah melekat pada aspek heteroseksual
dan homoseksual. Keduanya tampaknya terjadi dalam perkembangan kebanyakan
anak-anak. Akhirnya, berkembangnya konsesi anak terhadap realitas (bahwa mereka
tidak akan menikah dengan salah satu orangtua dan menghilangkan yang lainnya)
menyebabkan timbulnya identifikasi anak dengan nilai-nilai orang tua.
Identifikasi ini umumnya membuat rangkaian baru dari bekerjanya mental mengenai
nilai-nilai dan rasa bersalah, yang dimasukkan di bawah istilah “superego”.
Selain perkembangan superego, anak-anak “menyelesaikan" konflik oedipal
prasekolah mereka dengan menyalurkan keinginan terhadap sesuatu yang disetujui
orang tua mereka ("sublimasi"). Selain itu, perkembangan tersebut
terjadi selama tahun-tahun usia sekolah ("latency") di mana
terdapat manuver defensif obsesif-kompulsif yang sesuai dengan usia (aturan,
permainan berulang).
v Terapi
Intervensi
khusus dari seorang penganalisis biasanya mencakup mengkonfrontasikan dan
mengklarifikasi mekanisme pertahanan,
harapan, dan perasaan bersalah. Melalui analisis konflik,
termasuk yang berkontribusi terhadap daya tahan psikis dan yang melibatkan tranferens
kedalam reaksi yang menyimpang, perlakuan psikoanalisis dapat mengklarifikasi
bagaimana pasien secara tidak sadar menjadi musuh yang paling jahat bagi
dirinya sendiri: bagaimana reaksi tidak sadar yang bersifat simbolis dan telah
distimulasi oleh pengalaman kemudian menyebabkan timbulnya gejala yang tidak
dikehendaki. Terapi dihentikan atau dianggap selesai saat pasien mengerti akan
kenyataan yang sesungguhnya, alasan mengapa mereka melakukan perilaku
abnormal, dan menyadari bahwa perilaku tersebut tidak seharusnya
mereka lakukan, lalu mereka sadar untuk menghentikan perilaku itu.[9]
v Perlakuan
Dengan
menggunakan berbagai teknik analisis dan psikologis untuk menilai masalah
mental, sebagian orang percaya bahwa ada kumpulan masalah tertentu yang sangat
cocok untuk ditindaklanjuti dengan menggunakan perlakuan analitis (lihat di
bawah), sedangkan masalah lain akan diselesaikan secara lebih baik melalui
obat-obatan dan intervensi interpersonal lainnya. Untuk diberi perlakuan dengan
psikoanalisis, apa pun masalah yang diajukan, orang yang meminta bantuan harus
menunjukkan keinginan untuk memulai analisis. Orang yang ingin memulai analisis
harus memiliki kemampuan untuk berbicara dan berkomunikasi.
Selain
itu, mereka harus mampu memiliki atau mengembangkan kepercayaan dan wawasan
dalam sesi psikoanalsis. Calon pasien harus menjalani tahap awal pengobatan
untuk menilai apa yang mereka tanggung untuk perlakuan psikoanalisis pada waktu
itu, dan juga untuk memungkinkan sang analis untuk membentuk sebuah model kerja
psikologis, yang akan digunakannya untuk mengarahkan pengobatan. Walaupun
psikoanalis secara khusus menangani neurosis dan histeria; bentuk psikoanalisis
yang telah diadaptasi digunakan untuk menangani skizofrenia dan bentuk lain
dari psikosis atau gangguan mental. Akhirnya, jika calon pasien menderita
keinginan untuk bunuh diri yang parah, tahap awal yang lebih lama dapat
digunakan, kadang-kadang dengan sesi di mana di tengah-tengahnya terdapat sesi
istirahat selama 20 menit. Ada banyak modifikasi teknik di dalam bidang
psikoanalisis karena sifat kepribadian individualistis pada diri analis maupun
pasien.
Masalah
paling umum yang dapat diobati dengan psikoanalisis meliputi fobia,
konversi, kompulsi, obsesi, kecemasan,
serangan, depresi, disfungsi
seksual, berbagai masalah hubungan (seperti perselisihan dalam
kencan dan perkawinan), dan berbagai macam masalah karakter (misalnya, rasa
malu yang berlebihan, kekejaman, kejengkelan, gila kerja, gairah yang
berlebihan, emosi yang berlebihan, cerewet yang berlebihan). Fakta bahwa banyak
dari pasien tersebut juga menunjukkan defisit di atas membuat diagnosis dan
pemilihan pengobatan menjadi sulit.
Organisasi analitis
seperti IPA, APsaA dan Federasi Eropa untuk Psikoterapi Psikoanalitik telah
menetapkan prosedur dan model untuk indikasi dan praktek terapi psikoanalitik
bagi peserta pelatihan dalam analisis. Kecocokan analis dengan pasien dapat
dilihat sebagai faktor lain yang berperan terhadap indikasi dan kontraindikasi
perawatan psikoanalitik. Analis memutuskan apakah pasien cocok untuk
psikoanalisis. Keputusan ini dibuat oleh analis, yang juga membuat indikasi dan
patologi yang biasanya, yang juga didasarkan pada tingkat tertentu oleh
"kecocokan" antara analis dan pasien. Kesesuaian seseorang untuk
dilakukan analisis pada waktu tertentu didasarkan pada keinginan mereka untuk
mengetahui darimana penyakit mereka berasal. Seseorang yang tidak cocok untuk
analisis tidak mengungkapkan keinginan untuk tahu lebih banyak tentang sumber
penyebab penyakit mereka.
Evaluasi dapat memasukkan
satu atau lebih pendapat independen analis lain dan memasukkan pembahasan
tentang situasi keuangan dan asuransi pasien.
Ø Teknik-teknik
Metode
dasar psikoanalisis adalah interpretasi konflik bawah sadar pasien yang
mengganggu kesehariannya, yaitu konflik yang menyebabkan gejala menyakitkan
seperti fobia, kecemasan, depresi, dan kompulsi.
Strachey (1936) menekankan bahwa mencari tahu bagaimana pasien mendistorsi
persepsi tentang analis adalah cara untuk memahami apa yang mungkin telah
dilupakan.
Secara khusus, perasaan bermusuhan yang tidak sadar terhadap analis dapat
ditemukan dalam reaksi negatif simbolik terhadap apa yang Robert Langs sebut
sebagai "kerangka" dari terapi, yaitu berupa susunan yang
mencakup waktu setiap sesi, pembayaran biaya, dan kebutuhan berbicara. Pada
pasien yang melakukan kesalahan, lupa, atau menunjukkan keanehan lainnya
mengenai waktu, biaya, dan berbicara, analis biasanya dapat menemukan berbagai
"resistensi" yang tidak sadar terhadap aliran pikiran (kadang-kadang
disebut asosiasi bebas).
Ketika
pasien bersandar di sofa dan analis berada di luar pandangan, pasien cenderung
mengingat lebih, mengalami lebih banyak perlawanan dan transferensi, dan mampu
menata pikiran setelah pengembangan wawasan melalui penafsiran analis. Meskipun
kehidupan fantasi dapat dipahami melalui pemeriksaan mimpi, fantasi masturbasi
(lih. Marcus, I. dan Francis, J. (1975), Masturbation from Infancy to
Senescence) juga penting. Analis tertarik pada bagaimana pasien bereaksi
terhadap dan menghindari fantasi-fantasi tersebut (lih. Paul Gray Berbagai
kenangan dalam kehidupan awal umumnya terdistorsi. Freud menyebutnya sebagai
"screen memory". Dan dalam hal apapun, pengalaman yang sangat
dini (sebelum usia dua tahun) tidak dapat diingat (lihat studi anak yang
dilakukan oleh Eleanor Galenson tentang memori evokatif).
Tokoh dan
Teori dasar Psikoanalisis
Teori
psikoanalisis di kembangkan oleh sigmun freud yang lahir pada tanggal 6 mei
1856 dan meninggal pada tanggal 23 september 1939. Pada usia 8 tahun freud
bermimpi untuk mencapai kemashuran melalui berbagai penemuan atau penelitian.
Untuk maksud tersebut freud mencoba membedah 400 belut jantan, untuk meneliti
apakah mereka mempunya testes, penelitian ini belum membuat dia terkenal
akhirnya daia mengalihkan perhatiannya pada manuasia.
Pada tahun 1873
freud masuk fakultas kedokteran di Wina dan lulus pada tahun 1881 dengan
yudisium excellent. Sebagai seorang ahli neurologi dia sering membantu
masalah-masalah pasiennya seperti rasa takut yang irrasional, obsesi dan rasa
cemas. Dalam membantu menyembuhkan masalah-masalah mental freud menggunakan
prosedur yang inovatif yang dinamakan psikoanalisis. Penggunaan psikoanalisis
memerlukan interaksi verbal yang cukup lama dengan pasien untuk menggali
pribadinya yang lebih dalam. Banyak buku yang telah di tulis freud, dan dari
teori freud ini memiliki beberapa kelemahan terutama dalam hal-hal berikut :
- Ketidaksadaran (uniconsciousness) amat berpengaruh terhadap prilaku manusia. Pendapat ini menunjukan bahwa manusia menjadi budak dirinya sendiri.
- Pengalaman masa kecil sangat menentukan atau berpengaruh terhadap kepribadian masa dewasa. Ini menunjukan bahwa manusia dipandang tidak berdaya untuk mengubah nasibnya sendiri.
- Kepribadian manusia terbentuk berdasarkan cara-cara yang ditempuh untuk mengatasi dorongan-dorongan seksualnya. Ini menunjukan bahwa dorongan yang lain dari individu kurang diperhatikan.
Struktur Kepribadian
Semua teori kepribadian menyepakti bahwa manusia, seperti binatang
lain, dilahirkan dengan sejumlah insting dan motifasi. Insting yang paling
dasar ialah tangisan. Ketika lahir tentunya kekuatan motifasi dalam diri
tentunya belum dipengaruhi oleh dunia luar.kekuatan ini bersifat mendasar dan
individual.
Frued membagi
struktur kepribadian kedalam tiga komponen, yaitu id, ego, dan superego.
Prilaku seseorang merupakan hasil dari interaksi antara ketiga komponen
tersebut.
Ø
Id (Das Es)
Id berisikan motivasi dan energy positif dasar, yang sering disebut insting atau
stimulus. Id berorientasi pada prinsip kesenangan (pleasure principle) atau
prinsip reduksi ketegangan, yang merupak sumber dari dorongan-dorongan biologis
(makan, minum, tidur, dll) Prinsip kesenangan merujuk pada pencapaian kepuasan
yang segera, dan id orientasinya bersifat fantasi (maya). Untuk memperoleh
kesengan id menempuh dua cara yaitu melalui reflex dan proses primer, proses
primer yaitu dalam mengurangi ketegangan dengan berkhayal.
Ø
Ego (Das Ich)
Peran utama dari ego adalah sebagai mediator (perantara) atau yang
menjembatani anatar id dengan kondisi lingkungan atau dunia luar dan
berorintasi pada prinsip realita (reality principle). Dalam mencapai kepuasan
ego berdasar pada proses sekunder yaitu berfikir realistic dan berfikir
rasional. Dalam proses disebelumnya yaitu proses primer hanya membawanya pada
suatu titik, dimana ia mendapat gambaran dari benda yang akan memuaskan
keinginannya, langkah selanjutnya adalah mewujudkan apa yang ada di das es dan
langkah ini melalui proses sekunder. Dalam upaya memuaskan dorongan, ego sering
bersifat prakmatis, kurang memperhatikan nilai/norma, atau bersifat hedonis.
·
Hal yang perlu diperhatikan
dari ego adalah :
- Ego merupakan bagian dari id yang kehadirannya bertugas untuk memuaskan kebutuhan id.
- Seluruh energy (daya) ego berasal dari id
- Peran utama memenuhi kebutuhan id dan lingkungan sekitar
- Ego bertujuan untuk mempertahankan kehidupan individu dan pengembanbiakannya.
Ø
Super Ego (Das Uber Ich)
Super ego merupak cabang dari moril atau keadilan dari kepridadian,
yang mewakili alam ideal daripada alam nyata serta menuju kearah yang sempurna
yang merupakan komponen kepribadian terkait dengan sytandar atau norma
masyarakat mengenai baik dan buruk, benar dan salah. Dengan terbentukny super
ego berarti pada diri individu telah terbentuk kemampuan untuk mengontrl
dirinya sendiri (self control) menggantikan control dari orang tua (out
control). Fungsi super ego adalah sebagai berikut :
1)
Merintangi dorongan-dorongan
id, terutama dorongan seksual dan agresif
2)
Mendorong ego untuk mengantikan
tujuan-tujuan relistik dengan tujuan-tujuan moralistic.
3)
Mengejar kesempurnaan.
(perfection)
Karakteristik
Sisitem Kepribadian Menurut Freud
ID
|
EGO
|
SUPEREGO
|
Sistem asli (the true psychic), bersifat subjektif (tidak mengenal
dunia objektif), yang terdiri dari insting-insting dan gudangnya (reservoir)
energy psikis yang digunaka ketiga system kepribadian.
|
Berkembang untuk memenuhi kebutuhan id yang terkait dengan dunia
nyata. Memperoleh energy dari id. Mengetahui dunia subjektif dan objektif
(dunia nyata).
|
Komponen moral kepribadian, terdiri dari dua subsistem : kata hati
(yang menghukum tingkahlaku yang salah) dan ego ideal (yang mengganjar
tingkahlaku yang baik).
|
Dinamika
Kepribadian
Freud memandang organisme manusia sebagai sistem energi yang
kompleks. Berdasarkan doktrin konservasi energi bahwa energi berubah dari energi fisiologis ke energi
psikis atau sebaliknya. Freud berpendapat bahwa apabila energi digunakan dalam kegiatan psikologis seperti
berfikir, maka energi itu merupakan energi psikis. Titik tumpu atau jembatan
antara energi jasmaniah dengan energi kepribadian adalah id dan
instink-instinknya. Instink-instink ini meliputi seluruh energy yang digunakan
oleh ketiga struktur kepribadian (id, ego, dan superego) untuk menjalankan
fungsinya. Dinamika kepribadian terkait dengan proses pemuasan instink,
pendistribusian energy psikis dan dampak dari ketidakmampuan ego untuk
mereduksi ketegangan pada saat bertransaksi dengan dunia luar yaitu kecemasan
(anxiety).
a. Instink
Instink merupakan kumpulan hasrat atau keinginan (wishes). Tujuan
dari instink-instink adalah mereduksi ketegangan (tension reduction) yang
dialami sebagai suatu kesenangan.
Freud mengklasifikasikan
instink ke dalam dua kelompok, yaitu:
1)
Instink hidup (life instink :
eros). Instink hidup merupakan motif dasar manusia yang mendorongnya untuk
bertingkah laku secara positif atau konstruktif, berfungsi untuk melayani
tujuan manusia agar tetap hidup dan mengembangkan rasanya. Energy yang
bertanggung jawab bagi instink hidup adalah libido. Libido ini bersumber dari
erotogenic zones yaitu bagian-bagian tubuh yang sangat peka terhadap
rangasangan seperti: bibir/mulut, dubur dan organ seks).
2)
.Instink mati (death instink : thanatos). Instink ini merupakan
motifasi dasar manusia yang mendorongnya untuk bertingkah laku yang bersifat
negative atau destruktif. Freud meyakini bahwa manusia dilahirkan dengan
mambawa dorongan untuk mati (keadaan tak barnyawa = inanimate state). Pendapat
ini didasarkan kepada prinsip konstansi dari Fechner yaitu bahwa proses
kehidupan itu cenderung kembali kepada dunia yang anorganis. Kenyataan manusia
akhirnya mati, oleh karena itu tujuan hidup adalah mati. Hidup itu sendiri
tiada lain hanya perjalanan kea rah mati. Dia beranggapan bahwa instink ini
merupakan sisi gelap dari kehidupan manusia.
Instink mempunyai empat macam karakteristik, yaitu : (a) sumber
(source): kondisi rangsangan jasmaniah atau needs, (b) tujuan (aim):
menghilangkan rangsangan jasmaniah atau mereduksi ketegangan, sehingga mencapai
kesenangan dan terhindar dari rasa sakit, (c) objek (object): meliputi benda
atau keadaan yang berada di lingkungan yang dapat memuaskan kebutuhan, termasuk
kegiatan untuk memperoleh objek tersebut, (d) mendorong/pergerakan (impetus):
kekuatan yang bergantung pada intensitas (besar-kecilnya) kebutuhan.
Sumber dan tujuan instink bersifat tetap, sedangkan objek dan
penggerak sering berubah-berubah. Apabila energi instink digunakan untuk
mensubstitusi objek yang tidak asli, maka tingkah laku yang dihasilkannya disebut
instink derivative.
b.
Pendistribusian dan penggunaan Energi Psikis.
Dinamika kepribadian merujuk kepada cara kepribadian berubah atau
berkembang melalui pendistribusian dan penggunaan energi psikis, baik
oleh id, ego, maupun superegoengha. Id menggunakan energi ini untuk memperoleh
kenikmatan (pleasure principle) melalui (1) gerakan refleksi dan (2) proses
primer (menghayal atau berfantasi). Mekanisme atau proses pengalihan energi
dari id ke ego atau dari id ke superego disebut identifikasi. Ego menggunakan
energi untuk keperluan (1) memuaskan dorongan atau instink melalui proses
sekunder, (2) meningkatkan perkembangan aspek-aspek psikologi, (3) mengekang
menangkal id agar tidak bertindak impulsive atau irasional dan (4) menciptakan
integrasi di antara ketiga sistem kepribadian dengan tujuan terciptanya
keharmonisan dalam kepribadian, sehingga dapat melakukan transaksi dengan dunia
luar secara efektif. Seperti halnya ego, superego memperoleh energy itu
melalui identifikasi.
Oleh karena itu dalam proses pendistribusian energy itu terjadi
persaingan antara ketiga komponen kepribadian, maka suasana konflik diantara
ketiganya tidak dapat dielakan lagi. Disamping itu ada kemungkinan, ego
mendapat tekanan yang begitu kuat, baik dari id maupun superego.
1. Konflik
Freud berasumsi bahwa tingkah laku manusia merupakan hasil dari
rentetan konflik internal yang terus menerus. Konflik (peperangan) antara id,
ego, superego adalah hal yang bisa (rutin). Feurd menyakini bahwa
konflik-konflik itu bersumber kepada dorongan-dorongan seks dan agresif.
Konflik sering terjadi secara tidak disadari. Walaupun tidak
disadari, konflik tersebut dapat melahirkan kecemasan (anxiety). Kecemasan ini
dapat dilacak dari kekhawatiran ego akan dorongan id yang tidak dapat di
kontrol, sehingga melahirkan suasana yang mencekam/mengerikan. Setiap orang
berusaha untuk membebaskan diri dari kecemasan ini yang dalam usahanya sering
menggunakan mekanisme pertahanan ego.
2.Kecemasan
Kecemasan mempunyai peranan sentral dalam teori psikoanalisis,
kecemasan digunakan oleh ego sebagai isyarat adanya bahaya yang
mengancam. Perasaan terjepit dan terancam disebut kecemasan (anxiety). Perasaan
ini berfungsi sebagai ego bahwa ketika dia bertahan sambil tetap
mempertimbangkan kelangsungan hidup organism, dia sebenarnya sedang berada
dalam bahaya.
v
Freud mengklasifikasikan
kecemasan dalam tiga tipe, yaitu sebagai berikut:
Tipe
kecemasan
|
Pengertian
|
Kecemasan Realistik
|
Resrpon terhadap ancaman dari dunia luar atau perasaan takut
terhadap bahaya-bahaya yang nyata(real) yang berada di lingkungan. Contoh
seorang merasa takut bila di depannya ada ular. Maka orang tersebut mengalami
kecemasan realistik.
|
Kecemasan Neurotik
|
Respon yang mengancam dari dorongan id ke dalam kesadaran.
Kecemasan ini berkembang berdasarkan pengalaman masa anak yang terkait dengan
hukuman yang maya (hayalan) dari orang tua atau orang lain yang mempunyai
otoritas secara maya pula untuk memuaskan dorongan instinknya. Neurotik
adalah kata latin dari perasaan gugup.
|
Kecemasan moral
|
Respon superego terhadap dorongan id yang mengancam untuk
memperoleh kepuasan secara “immoral”. Kecemasan ini di wujudkan dalam bentuk
perasaan bersalah (guilty feeling) atau rasa malu (shame). Seseorang yang
mengalami kecemasan ini, merasa takut akan dihukum oleh superegonya atau
katahatinya.
|
3. Mekanisme
Pertahanan Ego.
Mekanisme pertahanan ego merupakan proses mental yang bertujuan
untuk mengurangi kecemasan dan dilakukan melalui dua karakteristik khusus
yaitu : (1) tidak disadari dan (2) menolak, memalsukan atau mendistorsi
(mengubah) kenyataan. Mekanisme pertahanan ini dapat juga diartikan sebagai
reaksi-reaksi yang tidak disadari dalam upaya melindungi diri dari emosi atau
perasaan yang menyakitkan seperti cemas dan perasaan bersalah. Ego berusaha
sekuat mungkin menjaga kestabilan hubungannya dengan realitas, id dan superego.
Namun kecemasan begitu menguasai, ego harus berusahan mempertahankan diri.
Secara tidak sadar, dia akan bertahan dengan cara memblokir seluruh
dorongan-dorongan atau menciutkan dorongan-dorongan tersebut menjadi wujud yang
lebih dapat diterima atau tidak terlalu mengancam.
Jenis-jenis
mekanisme pertahanan ego itu adalah sebagai berikut.
1.)Represi
Represi merupakan proses penekanan dorongan-dorongan ke alam tak
sadar, orang atau karena mengancam
keamanan ego. Anna Freud mengartikan pula sebagai “melupakan yang bermotivasi”,
adalah ketidakmampuan untuk mengingat kembali situasi, orang atau peristiwa
yang menakutkan. Represi merupakan mekanisme pertahanan dasar yang terjadi
ketika memori, pikiran atau perasaan (kateksis objek = id) yang menimbulkan
kecemasan ditekan keluar dari kesadaran oleh antikateksis (ego). Orang
cenderung merepres keinginan atau hasrat yang apabila dilakukan dapat
menimbulkan perasaan bersalah (guilty feeling) dan konflik yang menimbulkan
rasa cemas atau merepres memori (ingatan) yang meyakitkan.
2). Projeksi
Projeksi merupakan pengendalian pikiran, perasaan, dorongan diri
sendiri kepada orang lain. Dapat juga diartikan sebagai mekanisme perubahan
kecemasan neurotik dan moral dengan kecemasan realistik. Anna freud mengatakan
projeksi sebagai penggantian kea rah luar atau kebalikan dari melawan diri
sendiri, mekanisme ini meliputi kecendrungan untuk melihat hasrat anda yang
tidak bisa diterima oleh orang lain. Projeksi memungkinkan orang untuk
mengatakan dorongan yang mengancamnya dengan menyamarkanya sebagai pertahanan
diri. Projeksi bertujuan untuk mengurangi pikiran atau perasaan yang
menimbulkan kecemasan.
3. Pembentukan
Reaksi (Reaction Formation).
Pembentukan reaksi atau reaksi formasi ialah suatu mekanisme
pertahanan ego yang mengantikan suatu impuls atau perasaan yang menimbulkan
kecemasan dengan lawan atau kebalikannya dalam kesadarannya (Hall dan Gardner).
Dapat juga di artikan pergantian sikap dan tingka laku dengan sikap dan tingkah
laku yang berlawanan. Bertujuan untuk menyembunyikan pikiran dan perasaan yang
dapat menimbulkan kecemasan. Mekanisme ini biasanya ditandai dengan sikap atau
perilaku yang berlebihan atau bersifat kompulsif, biasanya dari perasaan yang
negatif ke positif meskipun kadang-kadang terjadi dari negatif ke positif.
Dalam hal ini Freud berpendapat bahwa laki-laki yang suka mencemoohkan
homoseksual merupakan ekspresi dari perlawanannya akan dorongan-dorongan
homoseksual dalam dirinya sendiri.
4. Pemindahan
Objek (Displacement)
Displacement ialah mekanisme
pertahanan ego dengan mana anda melepaskan gerak-gerik emosi yang asli, dan
sumber pemindahan ini dianggap sebagai suatu target yang aman. Mekanisme
pertahanan ego ini, melimpahkan kecemasan yang menimpa seseorang kepada orang
lain yang lebih rendah kedudukannya.lebih
lanjut dikatakan pemindahan objek ini merupakan proses pengalihan perasaan
(biasanya rasa marah) dari objek (target) asli ke objek pengganti. Contohnya:
seorang pegawai yang dimarahi atasannya di kantor, pada saat pulang dia
membanting pintu dan marah-marah pada anaknya.
5. Faksasi
Faksasi ini merupakan mekanisme yang
memungkinkan orang mengalami kemandegan dalam perkembangannya, karena cemas
untuk melangkah ke perkembangan berikutnya. Faksasi ini
bertujuan untuk menghindari dari
situasi-situasi baru yang dipandang
berbahaya atau mengakibatkan frustasi. Contohnya anak
usia 7 tahun masih ngeisap jempol dan belum berani berpergaian tanpa ibunya.
6. Regresi
Regresi adalah kembali ke masa-masa di mana seseorang
mengalami tekanan psikologis. Kerika kita menghadapi kesulitan
atau ketakutan, perilaku kita sering menjadi
kekanak-kanakan atau primitif. Dapat
dikatakan pula pengulangan
kembali tingkah laku yang cocok bagi tahap perkembangan atau
usia sebelumnya (perikaku kekanak-kanakan). Contohnya seorang yang baru
pensiun akan berlama-lama duduk di
kursi goyang dan bersikap seperti
anak-anak, serta menggantungkan hidupnya pada isntrinya.
7.
Rasionalisasi
Rasionalisasi merupakan penciptaan kepalsuan (alasan-alasan) namun
dapat masuk akal sebagai upaya pembenaran tingkah laku yang tidak dapat
diterima. Menurut Berry , rasionalisasi ialah
mencari pembenaran atau alasan bagi prilakunya, sehingga manjadi lebih bisa
diterima oleh ego daripada alasan yang sebenarnya. Rasionalisasi ini terjadi
apabila individu mengalami kegagalan dalam memenuhi kebutuhan, dorongan atau
keinginannya. Dia mempersepsikan kegagalan tersebut sebagai kekuatan yang
mengancam keseimbangan psikisnya (menimbulkan rasa cemas).
8. Sublimasi
Sublimasi adalah mengubah berbagai rangsangan yang tidak diterima,
apakah itu dalam bentuk seks, kemarahan, ketakutan atau bentuk lainnya, ke
dalam bentuk-bentuk yang bisa diterima secara sosial. Dengan kata lain
sublimasi ini merupakan pembelotan atau penyimpangan libido seksual kepada
kegiatan yang secara sosial lebih dapat diterima. Dalam banyak cara,
sublimasi merupakan mekanisme yang sehat, karena energi seksual berada di
bawah kontrol sosial. Bagi Freud seluruh bentuk aktivitas positif dan kreatif
aadalah sublimasi, terutama sublimasi hasrat seksual.
9. Identifikasi
Identifikasi merupakan proses memperkuat harga diri (self-esteem)
dengan membentuk suatu persekutuan (aliansi) nyata atau maya dengan orang lain,
baik seseorang maupun kelompok. Identifikasi ini juga merupakan satu cara untuk
mereduksi ketegangan. Identifikasi ini dilakukan kepada orang-orang yang
dipandang sukses atau berhasil dalam hidupnya. Identifikasi dengan penyerangan
adalah bentuk introjeksi yang terfokus pada pengadopsian, bukan dari segi umum
atau positif, tapi dari sisi negatif.
Perkembangan
Kepribadian
Perkembangan manusia dalam psikoanalitik merupakan suatu gambaran
yang sangat teliti dari proses perkembangan psikososial dan psikoseksual, mulai
dari lahir sampai dewasa. Dalam teori Freud setiap manusia harus melewati
serangkaian tahap perkembangan dalam proses menjadi dewasa. Tahap-tahap ini
sangat penting bagi pembentukan sifat-sifat kepribadian yang bersifat menetap.
Menurut Freud, kepribadian orang terbentuk pada usia sekitar 5-6 tahun,
meliputi beberapa tahap yaitu tahap oral, tahap anal, tahap halik, tahap laten,
dan tahap genita
a. Tahap Oral
Sumber kenikmatan pokok yang berasal dari mulut adalah makan. Dua
macam aktivitas oral ini, yaitu menelan makanan dan mengigit, merupakan
prototipe bagi banyak ciri karakter yang berkembang di kemudian hari. Karena
tahap oral ini berlangsung pada saat bayi sama sekali tergantung pada ibunya
untuk memdapatkan makanan, pada saat dibuai, dirawat dan dilindungi dari
perasaan yang tidak menyenangkan, maka timbul perasaan-perasaan tergantung pada
masa ini. Frued berpendapat bahwa simtom ketergantungan yang paling ekstrem
adalah keinginan kembali ke dalam rahim.
b. Tahap
Anal
Setelah makanan dicernakan, maka sisa makanan menumpuk di ujung
bawah dari usus dan secara reflex akan dilepaskan keluar apabila tekanan pada
otot lingkar dubur mencapai taraf tertentu. Pada umur dua tahun anak
mendapatkan pengalaman pertama yang menentukan tentang pengaturan atas suatu
impuls instingtual oleh pihak luar. Pembiasaan akan kebersihan ini dapat
mempunyai pengaruh yang sangat luas terhadap pembentukan sifat-sifat dan
nilai-nilai khusus. Sifat-sifat kepribadian lain yang tak terbilang
jumlahnya konon sumber akarnya terbentuk dalam tahap anal.
c. Tahap Phalik
Selama tahap perkembangan kepribadian ini yang menjadi pusat
dinamika adalah perasaan-perasaan seksual dan agresif berkaitan dengan mulai
berfungsinya organ-organ genetikal. Kenikmatan masturbasi serta kehidupan fantasi
anak yang menyertai aktivitas auto-erotik membuka jalan bagi timbulnya kompleks
Oedipus. Freud memandang keberhasilan mengidentifikasikan kompleks
Oedipus sebagai salah satu temuan besarnya.
Freud
mengasumsikan bahwa setiap orang secara inheren adalah biseksual, setiap jenis
tertarik pada anggota sejenis maupun pada anggota lawan jenis. Asumsi tentang
biseksualitas ini disokong oleh penelitian terhadap kelenjar-kelenjar endokrin
yang secara agak konklusif menunjukkan bahwa baik hormon seks perempuan terdapat
pada masing-masing jenis. Timbul dan berkembangnya kompleks Oedipus dan
kompleks kastrasi merupakan peristiwa-peristiwa pokok selama masa phalik dan
meninggalkan serangkaian bekas dalam kepribadian.
d. Tahap
Latensi
Masa ini adlah
periode tertahannya dorongan-dorongan seks agresif. Selama masa ini anak
mengembangkan kemampuannya bersublimasi ( seperti mengerjakan tugas-tugas
sekolah, bermain olah raga, dan kegiatan lainya). Tahapan latensi ini antara
usia 6-12 tahun (masa sekolah dasar)
e. Tahap Genital
Kateksis-kateksis dari masa-masa pragenital bersifat narsisistik.
Hal ini berarti bahwa individu mendapatkan kepuasan dari stimulasi dan
manipulasi tubuhnya sendiri sedangkan orang-orang lain dikateksis hanya karena
membantu memberikan bentuk-bentuk tambahan kenikmatan tubuh bagi anak. Selama
masa adolesen, sebagian dari cinta diri atau narsisisme ini disalurkan ke
pilihan-pilihan objek yang sebenarnya.
Kateksis-kateksis
pada tahap-tahap oral, anal, dan phalik lebur dan di sistensiskan dengan
impuls-impuls genital. Fungsi biologis pokok dari tahap genital tujuan ini
dengan memberikan stabilitas dan keamanan sampai batas tertentu.
Meskipun
demikian Freud membedakan empat tahap perkembangan kepribadian, namun ia tidak
mengasumsikan bahwa terdapat batas-batas tajam atau transisi-transisi yang
mengejutkan dalam peralihan dari satu tahap ke tahap yang lain. Bentuk akhir
organisasi kepribadian menurut hasil sumbangan dari keempat tahap itu.
Implikasi
Teori Kepribadian Psikoanalis Terhadap Bimbingan dan Konseling
Psikoanalisis dipandang sebagai pendekatan atau metode terapi
(Bimbingan dan Konseling). Ada beberapa Implikasi teori psikoanalisis terhadap
bimbingan dan konseling, yaitu sebagai berikut ;
- Tujuan Bimbingan dan Konseling
Bimbingan dan
Koseling bertujuan untuk ;
·
Memperkuat ego, sehingga mampu
mengontrol dorongan-dorongan instrinsik
·
Meningkatkan kemampuan individu
dalam bercinta dan bekerja
2. Metode
Bimbingan dan Konseling
Yang menjadi fokus utama bimbingan dan konseling adalah represi yang
tidak terpecahkan, dengan cara menganalisa pengalaman masa lalu pasien.
Beberapa metode yang dapat diterapkan yaitu;
1) Asosiasi
Bebas
Klien diminta untuk mengatakan (mengungkapkan) apa saja yang berada
dalam pikirannya (perasaannya).
2) Analisis
Mimpi
Untuk menelusuri akar masalah yang dialami klien dapat dengan cara
mengungkapkan isi mimpinya, karena ketika tidur maka keadaan ego menjadi lemah
untuk mengontrol dorongan-dorongan Id atau hal-hal yang tidak disadari,
sehingga dapat mendesak ego untuk memuaskannya.
3) Interpretasi
Setelah masalah pasien diketahui secara jelas, kemudian konselor
mulai menginterpretasi masalah klien, dan terdorong untuk mengakui
ketidaksadarannya baik terkait dengan pikiran, kegiatan atau
keinginan-keinginannya.
4) Resistansi
Sikap resisten dipicu oleh ketidaksadaran dan pertahanan diri yang
terancam, resistensi klien dinyatakan dalam banyak cara seperti; tidak menepati
janji, menolak interpretasi dan banyak mengahabiskan waktu untuk diskusi
5)Transferensi
Transferensi terjadi ketika klien merespon analisa konselor sebagai
figure orangtua, respon ini bisa bersifat positif dan bisa juga negative
tergantung pada suasana emosional yang dialaminya, sehingga dapat menimbulkan
terjadinya reaksi-reaksi atau konflik-konflik lama.
Reaksi
transferensi klien terhadap konselor dipengaruhi oleh prasangka-prasangka yang
tidak realistic sebagai refleksi dari suasana emosional masa lalu
Komentar
Para Ahli tentang Teori Psikoanalisis Sigmund Freud
Teori psikoanalisis dipandang banyak orang sebagai teori yang
controversial, terutama yang terkait dengan pelecehan harkat – martabat
manusiadan kesucian agama. Freud tidak menempatkan manusia tidak lebih mulia
daripada hewan.
Komentar para
ahli antara lain ;
Ø
Djamaludin A dan Fuat NS
1994:68
“Kita semua tahu setengah abad lebih yang silam, penelitian –
penelitian yang dilakukan Charles Darwin dan kolega-koleganya telah mengakhiri
kecongkakan manusia, sungguh manusia bukanlah makhluk yang berbeda apalagi
lebih unggul dari pada binatang.”
Ø
Malik B Badri 1986 :43
Mengemukakan bahwa para psikolog bereksperimen dan menganut aliran
tingkah laku mengkritik teori psikoanalisis hanya sebagai spekulasi yang tidak
bisa dibuktikan kebenarannya melalui observasi dan oleh karena itu tidak
ilmiah.
Ø
Muh.Quthb, 1989:24
Carl Gustav Jung dalam bukunya “Memorial of Freud” mengatakan “Freud
telah berwasiat kepadaku, bahwa wajib menghancurkan semua kepercayaan agama.”
Ø
Hartman (Bapak psikologi ego)
Ego tidak berkembang dari id, karena setiap system adalah asli,
predisposisi yang inhern, dan masing-masing independen dalam perkembangannya.
Proses ego dinetralisasi dari energy seksual dan agresif. Fungsi ego bukan
reality testing sebagai pemuas id, akan tetapi adavtive function terhadap dunia
luar. Inilah cognitive processes seperti mempersepsi, mengingat dan berpikir.
Ø
Ronald Fairbairn Mengemukakan :
- Ego berada sejak lahir, yang memiliki struktur dinamika sendiri, dan sumber energy sendiri
- Dalam kenyataan, yang ada hanya ego, sedangkan id tidak ada. Oleh karena itu tidak ada konflik antara id dan ego
- Ego berfungsi untuk mencari (seek), menemukan (find), dan membangun relasi dengan objek-objek di dunia luar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar